Pengagum Sunan Kalijaga

Setiap menyebutkan trahnya, dia bangga berada dalam garis keturunan Ki Ageng Wiro Lawe, Rengel. Konon, Wiro Lawe ini masih ada hubungan darah dengan Ranggalawe, yang dalam buku sejarah sekolah dikenal sebagai pemberontak Majapahit. Namun menurutnya, sebutan sebagai pemberontak ini bukan hal yang aib, karena yang diberontak adalah birokrasi (rezim) dan bukan nasionalisme. Justru orang yang ingin dikendalikan oleh Ranggalawe malah jadi pemberontak, yaitu Sura dan Kuti. Konon, Ranggalawe itu adalah korban intrik Kraton. Kebo Anabrang yang saat itu menjadi jagoan Majapahit, tahu betul bahwa posisi Ranggalawe benar.

Dalam buku sejarah disebutkan, bahwa Ranggalawe, Sora dan Nambi adalah teman seperjuangan Raden Wijaya ketika merintis berdirinya kerajaan Majapahit. Ketika Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit, Ranggalawe menjadi Adipati Tuban, Sora menjadi penguasa di Daha (Kediri), sedangkan Nambi menjabat sebagai perdana menteri di istana. Tampak di sini, Nambi menduduki jabatan kelas satu dalam hirarki Majapahit, lebih tinggi dari kedua rekannya yang lain. Ranggalawe tidak puas dengan kebijakan raja terhadap mereka bertiga. Pada tahun 1295 Masehi, timbullah pemberontakan dari Ranggalawe. Pada tahun itu juga, Ranggalawe gugur di tangan Kebo Anabrang, dalam suatu pertempuran antara pasukan Tuban dan pasukan kerajaan. Namun kemudian Kebo Anabrang dibunuh oleh Sora karena tidak tega menyaksikan kematian sahabatnya itu.

Disamping itu, Thalib bangga menjadi pengagum Sunan Kalijaga. Hal ini ada hubungannya dengan Islam sebagai agamanya. Thalib berkata, “bukan karena kebetulan sekarang saya beragama Islam, tetapi kalau toh saya memiliki kebebasan untuk memilih agama, maka yang saya pilih adalah Islam.” Dia sudah pelajari semuanya, lantas menemukan betapa dalam bacaan sholat Takhiyat Akhir dikandung makna yang dalam. Disebutkan dalam bacaan tersebut ditemukan urutan yang menarik, yaitu pertama-tama kita menyebut nama Allah, kemudian Nabi, menghormati orang-orang yang saleh, baru kemudian pernyataan terhadap Islam, yaitu bacaan kalimat syahadat. Pertanyaannya, mengapa tidak kalimat syahadat yang didahulukan? Itu artinya, menghormati orang-orang yang saleh harus lebih didahulukan ketimbang pernyataan bahwa “saya Islam”. Ini sebuah sikap rendah hati yang mengagumkan. Tidak ada rasa sombong sedikitpun. Karena itu, katanya, merupakan hal yang mengherankan manakala menemukan orang-orang yang mengaku saleh namun sikapnya sombong.

Perihal sosok Sunan Kalijaga atau Raden Said alias Pangeran Tuban, dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta/Raden Sahur. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Ia memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, sangat toleran pada budaya lokal, karena menurutnya bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, maka kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Ratu. Bahkan lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid juga diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Akan halnya kedua orangtua Thalib sendiri, disebutkan sebagai pengikut Islam, namun sebagaimana orang Jawa pada umumnya, mereka juga membakar dupa misalnya. Paduan antara Islam dan Kejawen inilah yang kemudian menyatu dalam diri seorang Thalib Prasojo sebagaimana yang, menurut Thalib, ada dalam diri Sunan Kalijaga. Namun kenyataannya, banyak orang yang mengaku Kejawen yang nggladrah, misalnya ketika berhadapan dengan keris malah cenderung melakukan pemujaan, sementara sikap Thalib adalah kekaguman terhadap keris sebagai karya seni rupa. Sebagai warisan budaya, keris memang harus dijaga dan dilestarikan. Justru bersikap mengkultuskan benda pusaka oleh sebagian orang membuat masyarakat kebanyakan akhirnya malah menjauhi benda pusaka itu sendiri karena takut dianggap sirik. Keris memang perlu dilestarikan namun sebagai benda pusaka yang punya nilai seni tinggi, bukan karena kekuatan supranaturalnya. Banyak orang yang tertipu karena melihat keris sebagai benda supranatural. Karena itulah penyucian (penjamasan) keris yang biasanya dilakukan setiap menjelang bulan Suro itu, bagi Thalib, pada prinsipnya tidak lebih dari sebuah cara untuk menghilangkan karat dari mata keris agar awet. Tidak diperlukan ritual khusus, seperti lelaku atau membuat sajen misalnya. Kalau toh di kemudian hari diketahui ada keris yang bertuah, itu urusan nanti. Sama halnya dengan batu kerikilpun bisa juga memiliki tuah, tetapi apakah lantas semua kerikil harus dipuja? Karena sikapnya terhadap keris yang seperti itulah maka dia tak diundang dalam acara-acara jamasan keris bersama.

Meski demikian, setiap kali menjelang bulan Suro, selalu saja banyak orang yang memintanya untuk mencuci keris atau benda pusaka lainnya. Memang banyak kolektor keris yang tidak bisa mencuci keris sendiri, kemudian datang pada Thalib karena dianggapnya mampu mencuci keris dengan benar. Tentu tidak gratis. Kemampuan menjamas ini sudah dimiliki Thalib sejak masih anak-anak, karena diajari ayah angkat sekaligus guru spiritualnya, Wiroprasojo. Sementara Thalib sendiri melakukan jamasan terhadap puluhan koleksi benda pusakanya tidak harus menjelang bulan Suro, setiap saat bisa dilakukan. Soal tradisi jamasan menjelang Suro itu, menurut Thalib, merupakan kebiasaan yang sengaja diciptakan agar orang tidak lupa untuk melakukannya secara teratur.

Perihal sosok Wiroprasojo, Thalib punya penilaian sendiri. Perkenalannya berawal ketika Thalib remaja suka menjajakan wayang karton buatannya sendiri. Wiroprasojo mengagumi gambar wayang buatan Thalib tersebut. Hubungan antara penjual dan pelanggan itu yang kemudian berlanjut menjadi hubungan batin sehingga Thalib diangkat menjadi anaknya. Dalam perkembangannya, akhirnya Wiroprasojo memang bukan sekadar ayah angkat, melainkan guru spiritual yang banyak memberikan ilmu batin pada Thalib.

Pada saat menjalani kewajiban ikatan dinas sebagai guru, Thalib sudah terbiasa hidup prihatin. Makan nasi hanya sak lepek tapi sayurannya sepiring. Karena itulah sampai sekarang kalau lihat sayur tewel (nangka muda) masih merasa mblenger karena itu dulu yang menjadi sayurnya, hampir tiap hari. Lauknya ikan klothok. Dalam kondisi seperti itulah dia mendapatkan gemblengan kanuragan. Gemblengan yang didapatnya antara lain, puasa selama 40 hari, juga badan dipukuli dengan besi, dan semacam itu. Pada jaman itu, tentara yang maju perang saja, meski sudah membawa bedhil tapi masih membawa rajah.

Sedangkan dari guru yang satunya, Kyai Mugi, Thalib lebih banyak mendapatkan filsafat pengetahuan. Misalnya, mempertanyakan huruf ba’ dalam bacaan Basmallah. Penguasaan terhadap Islam dipelajari secara mendalam tanpa harus bersikap fanatik dari gurunya yang satu ini. Ajaran dari dua gurunya ini ibarat tumbu oleh tutup. Disamping itu, secara genetik Thalib merasa sudah mendapat bekal ilmu serupa yang menitis dalam darahnya. Dia merasa cocok. Sebab, kalau tidak, sudah lama ilmu itu tak bisa masuk dalam dirinya. Itulah yang pernah dialaminya ketika Thalib belajar ilmu klenik dan semacamnya, secara otomatis tak bisa merasuk dalam dirinya. Dari dua orang guru spiritualnya, Thalib mendapatkan pelajaran mahal: Bahwa orang tidak berbohong itu tidak bisa, tapi jangan kebanyakan berbohong. Nabi Adam sampai turun ke bumi juga karena berbohong. Kita ini keturunan Adam, keturunan orang yang berbohong. Karena itu, boleh-boleh saja bohong, tapi jangan terlalu banyak. Lebih bagus lagi, jangan terbiasa (kulino) berbohong. Selain itu, jangan bersikap mentang-mentang.

Sikap kejawennya ini pula yang mendasari kerja keseniannya. Banyak karya-karya lukisnya yang berawal dari ilham yang didapatkannya dari makam atau tempat-tempat keramat lain. Dia pernah semedi di makam Imogiri, Bantul, untuk mendapatkan ilham lukisannya. Makam Imogiri memang dikenal sebagai areal yang gaib. Di situlah raja-raja Mataram dan kerabat Kraton Yogyakarta dimakamkan. Makam itu terletak di puncak bukit kapur, berada di tapal batas wilayah Yogyakarta dan Surakarta, dan berada di pesisir Laut Kidul. Thalib semedi pada saat malam satu Suro bersama sejumlah temannya. Waktu itulah terasa ada sesuatu yang berkelebat di depannya lalu menuju pintu masuk makam raja-raja. Penasaran dengan pengalamannya tersebut, keesokan harinya, dia menemui juru kunci dan memperoleh jawaban bahwa yang berkelebat itu adalah Nyai Kopek. Maksudnya, seekor macan betina yang konon dipelihara oleh salah satu Raja Mataram, yaitu Panembahan Senopati.

Tentu saja Thalib merasa senang mendapatkan pengalaman gaib tersebut. Menurut penjelasan juru kunci, barang siapa yang dalam semedinya dapat melihat benda putih masuk gerbang makam raja-raja, berarti mendapat pangestu dari leluhur. Artinya, semedinya berhasil dan direstui. Mungkin, bagi orang lain, restu tersebut diartikan sebagai permintaannya terkabul. Namun bagi Thalib pengalaman langka itu adalah sebuah ilham untuk membuat lukisan. Maka setibanya kembali di rumah, dia menyiapkan peralatan dan melukis berdasarkan hal itu dan jadilah lukisan “Nyai Kopek dari Imogiri.” Butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikannya. (*)

5 Comments

  1. gunawan said,

    November 12, 2007 at 6:31 am

    sebagai orang yang lahir di tuban dan saya mersa bangga sebagai pemuda yang lahir di tempat leluhur saya ada… tetapi pengetahuan tentang sejarah tempat saya lahir sangat kurang. selama ini saya banyak mencoba mencari dari berbagai sumber. sangat penting bahwa kita harus menjunjung sejarah serta warisan nenek moyang kita sebagai bukti bakti kita pada leluhur

  2. yusron said,

    March 18, 2008 at 12:48 am

    saya kagum dengan cerita anda..saya juga ingin seperti anda..suka prihatin untuk suatu tujuan…mohon petunjuk dari anda..soalnya saya masih pemula…terima kasih

  3. indra said,

    February 4, 2009 at 2:32 am

    saya indra menurut guru spiritual saya saya adalah keturiunan ranggalawe dan jujur saya bukan orang jawa tapi knp bisa di terawang bahwa sya adalah keturunan ranggalawe

  4. Cak Win said,

    March 21, 2009 at 9:19 am

    hmmmm, saya kok kurang paham ya??? sebenarnya saya suka dengan sejarah, terutawa sejarah wali. Tapi mungkin ibarat manusia saya masih bayi jadi belum bisa di suruh makan rujak petis

  5. irene.irenata said,

    July 7, 2010 at 9:36 am

    bro indra…. anda hidupp di jawa,,, belum tentu leluhur anda hidup d jawa bukan ???

    mending cari silsilah keluarga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: