
Soal patung kayunya itu memang unik. Bahannya didapat dari bekas pangkal pohon, bekas bantalan rel kereta api, dan juga potongan sisa gelondongan kayu jati. Dengan bahan yang disebut terakhir itulah lantas diukir dengan huruf-huruf Jawa seperti kaligrafi. Isi kalimat-kalimat berhuruf Jawa inilah yang sarat dengan muatan ajaran hidup. Ada yang berupa kalimat singkat dan ringkas, namun ada yang berpanjang-panjang, misalnya: Kidung Sunan Kalijaga. Kalau pelukis M. Roeslan dikenal piawai mengungkap falsafah Jawa dalam lukisan kaligrafinya, maka seorang Thalib Prasojo membuat kaligrafi Jawa dalam bentuk ukiran di atas kayu. Terobosan seperti inilah yang langka. Read the rest of this entry »
Patung Kayu Kaligrafi Jawa
September 30, 2007 at 1:18 am (Karya Seni)
Pada Mulanya adalah Patung
September 30, 2007 at 1:16 am (Karya Seni)
Selain melukis wayang, sebetulnya membuat patung merupakan kemahirannya yang kali pertama dikuasainya. Itu karena kebiasaan membuat relief dari semen, dan ikut kerja bersama seniman lain dalam proyek-proyek membuat monumen. Sejumlah pengalaman bekerja dalam tim membuat patung yang melibatkannya antara lain berupa Patung Pahlawan Memegang Keris yang ada di Jalan Basuki Rahmat, patung Gubernur Suryo di depan gedung negara Grahadi dan patung Pahlawan Tak Dikenal di kompleks Museum Tugu Pahlawan Surabaya. Read the rest of this entry »
Wayang Rumput
September 30, 2007 at 1:13 am (Karya Seni)
Kelekatannya dengan dunia wayang justru lebih pada sisi seni rupanya. Ketika bersekolah guru, Thalib remaja sudah punya pekerjaan sampingan yaitu menjual wayang kardus Punakawan. Dia gambar sendiri dengan menjiplak gambar wayang yang sudah ada, kemudian temannya yang menggunting. Kemudian diberi warna dengan sumba bercampur kanji, lantas dititipkan di warung-warung, seminggu kemudian didatangi lagi. Kalau ada yang berkurang, segera diganti dengan wayang yang baru. Read the rest of this entry »
Lukisan Kejawen
September 30, 2007 at 1:11 am (Karya Seni)
Karya-karyanya dua dimensi berupa lukisan, tetap saja menjadikan dunia wayang dan kejawen sebagai nafasnya. Penguasaannya terhadap wayang tidak perlu diragukan. Dan Tanpa harus menjadi dalang pergelaran wayang, Thalib dapat memainkan wayang-wayang yang dikehendakinya bagaikan sedang mendalang di atas kanvas. Tanpa harus merubah bentuknya seperti manusia, sosok-sosok wayang yang dilukis Thalib diberikan konteks baru dengan komposisi dengan elemen-elemen lainnya. Read the rest of this entry »
Sketsa, Sederhana
September 30, 2007 at 12:02 am (Karya Seni)
Di kalangan seniman, Thalib memang dikenal sebagai pelukis sketsa alias sketser. Ini karena dia memang kemana-mana membawa kertas dan pena, kemudian melukis di banyak kesempatan. Mulai dari nonton wayang, ludruk, pemungutan suara (Pemilu), saat menjadi peserta (dan bahkan pembicara) diskusi, atau ketika hadir dalam pembukaan pameran lukisan atau acara pergelaran kesenian tradisi. Tidak lupa pula, ia dokumentasikan dengan sketsanya gedung-gedung tua dan bersejarah yang bertebaran di berbagai penjuru kota. Bahkan, ketika sedang berlangsung unjuk rasa (demo) di jalanan, Thalib juga ikut “demo” melukis sketsa situasi demo yang menarik perhatiannya. Kadang-kadang, kebiasaannya ini menimbulkan salah paham dengan pelukis lain yang pada saat itu menggelar pameran. Read the rest of this entry »

