Epilog

Pada akhirnya, M. Thalib Prasojo memang sosok yang unik. Kalangan seniman masih memandangnya dengan sebelah mata, namun konsistensi dan pengabdiannya terhadap seni rupa tak perlu diragukan lagi. Bahkan dengan mengandalkan seni rupa dan hidup berkesenian, dia mampu membesarkan anak-anaknya, hingga tuntas dari jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Meski demikian, toh Thalib tidak lantas terperosok dalam arus komersialisasi kesenian. Karena kesenian baginya tetap menjadi sesuatu yang punya posisi terhormat. Kesenian itu adiluhung, namun dalam saat yang sama kesenian adalah juga bermakna profan, yang sanggup memberi arti pada kehidupan sehari-hari.

Sebagai seniman, Thalib bukan nama yang populer, yang sering muncul di media massa. Dia juga bukan tokoh yang kata-katanya sering dikutip wartawan. Kecuali wartawan media lokal, karena Thalib nampaknya hanya diposisikan sebagai seniman kelas lokal. Namun banyak seniman muda yang menganggapnya sebagai sosok panutan. Thalib adalah manusia yang selalu tampil sederhana, tak suka pamer, tak suka menonjol-nonjolkan diri. Sederhana, prasaja, sebagaimana namanya.

Banyak hal yang sebetulnya dapat dipejari dari lelaki yang santun ini. Di tengah gemuruh dan sorak sorai dunia kesenian, Thalib adalah sebuah narasi kecil yang selalu saja mengalir dan terus menerus mengalir menyusuri jalan kehidupan. Biar saja orang menganggapnya tak bisa bersuara keras, karena tak ada keharusan bahwa suara harus keras. Biar saja ada yang bilang larinya tidak kencang, lantaran jalan perlahan itu juga perlu, tidak selalu kencang.

Orang boleh bilang apa saja padanya, namun Thalib cukup menjawabnya dengan kerja nyata. ”Jawaban terbaik adalah karya,” tegasnya. Sebagaimana kredo Soedjojono, bahwa moralitas seni adalah penciptaan. Thalib telah mampu membuktikan pada siapapun, bahwa kerja kesenian telah dijalani secara serius, penuh pengabdian, dan tidak main-main. Terserah, apakah kemudian sejarah mencatatnya dalam lembaran-lembaran tersendiri. Bukankah selama ini sejarah selalu berpihak pada para pemenang? Dan seorang Thalib Prasojo, menjalani hidup ini tanpa harus memilih kalah atau menang. Semuanya sudah diatur oleh Yang di Atas. Itu saja, biasa saja, sederhana, prasaja. (*)

Post a Comment