September 30, 2007 at 1:25 am (Anekdot)
Bersama dengan teman-temannya, Thalib sedang berada dalam satu mobil yang hendak mengisi BBM di SPBU. Kebetulan, ada seorang wanita cantik, mengenakan rok agak pendek, memamerkan betisnya yang mulus. Dasar iseng, seorang temannya yang juga pelukis, bermaksud menggoda Thalib.
”Ayo Pak, kalau sampeyan berani menyentuh betis wanita itu saya beri uang.” Read the rest of this entry »
Leave a Comment
September 30, 2007 at 1:23 am (Anekdot)
Bercerita tentang M. Thalib, tak bisa dilepaskan dari koleksi anekdotnya yang melimpah. Bukan hanya cerita-cerita lucu yang imajinatif, namun berupa pengalamannya sendiri ketika berinteraksi dengan kalangan seniman teman-temanya. Dalam pembicaraan santai, tak jarang Thalib lantas mengudar koleksi anekdotnya yang rasanya tak pernah kering itu. Diantara sekian banyak cerita lucunya itu, berikut ini adalah beberapa contoh anekdotnya. Read the rest of this entry »
Leave a Comment
September 30, 2007 at 1:18 am (Karya Seni)

Soal patung kayunya itu memang unik. Bahannya didapat dari bekas pangkal pohon, bekas bantalan rel kereta api, dan juga potongan sisa gelondongan kayu jati. Dengan bahan yang disebut terakhir itulah lantas diukir dengan huruf-huruf Jawa seperti kaligrafi. Isi kalimat-kalimat berhuruf Jawa inilah yang sarat dengan muatan ajaran hidup. Ada yang berupa kalimat singkat dan ringkas, namun ada yang berpanjang-panjang, misalnya: Kidung Sunan Kalijaga. Kalau pelukis M. Roeslan dikenal piawai mengungkap falsafah Jawa dalam lukisan kaligrafinya, maka seorang Thalib Prasojo membuat kaligrafi Jawa dalam bentuk ukiran di atas kayu. Terobosan seperti inilah yang langka. Read the rest of this entry »
6 Comments
September 30, 2007 at 1:16 am (Karya Seni)
Selain melukis wayang, sebetulnya membuat patung merupakan kemahirannya yang kali pertama dikuasainya. Itu karena kebiasaan membuat relief dari semen, dan ikut kerja bersama seniman lain dalam proyek-proyek membuat monumen. Sejumlah pengalaman bekerja dalam tim membuat patung yang melibatkannya antara lain berupa Patung Pahlawan Memegang Keris yang ada di Jalan Basuki Rahmat, patung Gubernur Suryo di depan gedung negara Grahadi dan patung Pahlawan Tak Dikenal di kompleks Museum Tugu Pahlawan Surabaya. Read the rest of this entry »
Leave a Comment
September 30, 2007 at 1:13 am (Karya Seni)
Kelekatannya dengan dunia wayang justru lebih pada sisi seni rupanya. Ketika bersekolah guru, Thalib remaja sudah punya pekerjaan sampingan yaitu menjual wayang kardus Punakawan. Dia gambar sendiri dengan menjiplak gambar wayang yang sudah ada, kemudian temannya yang menggunting. Kemudian diberi warna dengan sumba bercampur kanji, lantas dititipkan di warung-warung, seminggu kemudian didatangi lagi. Kalau ada yang berkurang, segera diganti dengan wayang yang baru. Read the rest of this entry »
1 Comment
September 30, 2007 at 1:11 am (Karya Seni)
Karya-karyanya dua dimensi berupa lukisan, tetap saja menjadikan dunia wayang dan kejawen sebagai nafasnya. Penguasaannya terhadap wayang tidak perlu diragukan. Dan Tanpa harus menjadi dalang pergelaran wayang, Thalib dapat memainkan wayang-wayang yang dikehendakinya bagaikan sedang mendalang di atas kanvas. Tanpa harus merubah bentuknya seperti manusia, sosok-sosok wayang yang dilukis Thalib diberikan konteks baru dengan komposisi dengan elemen-elemen lainnya. Read the rest of this entry »
3 Comments
September 30, 2007 at 12:45 am (Semacam Biografi)
Sebetulnya tidak banyak yang diceritakan tentang keterkaitan Thalib dengan dunia organisasi. Sebab, meski temannya ada dimana-mana, dia kurang suka terikat dengan satu kelompok tertentu secara permanen sehingga mengganggu independensinya sebagai seniman. Yang jelas, ketika Thalib mulai masuk ke Surabaya, dunia politik negeri ini memang sedang panas. Terjadi percobaan kudeta di Jakarta. PKI melakukan pemberontakan, dilawan oleh tentara. Dan situasi perlawanan ini juga berimbas pada wilayah kesenian. Seniman Golongan Kiri dengan Lekranya, berhadapan dengan seniman yang berada dalam naungan kekuatan nasional dan agama. Read the rest of this entry »
Leave a Comment
September 30, 2007 at 12:40 am (Misteri)
Sebetulnya, masih banyak hal-hal misterius lainnya yang terjadi sepanjang hidupnya. Seperti yang diceritakan berikut ini:
Waktu itu saya sudah tinggal di rumah Sidoarjo. Saya pernah membeli sebuah jam tangan di trotoar Siola seharga Rp 20.000, dari harga yang ditawarkan Rp 25.000. Ketika malam tiba, saya tidur di kursi yang ada teras rumah. Tahu-tahu ada sosok orang tua, berpakaian putih-putih, bersih, gigi bagus, orangnya bersih, tahu-tahu duduk di bangku di depan, saya kaget. Read the rest of this entry »
Leave a Comment
September 30, 2007 at 12:39 am (Misteri)
Misteri demi misteri nampaknya sedemikian akrab dengan kehidupan Thalib. Termasuk juga, ketika sudah berdiam di Sidoarjo. Waktu itu, akhir bulan puasa, kondisi ekonomi lumayan susah. Lebaran kurang satu minggu, tidak ada uang sama sekali. Thalib dalam kondisi terjaga hingga pukul 1.30 dini hari. Dia keluar ke depan rumah, berdiri di pintu pagar, tiba-tiba merasa bengong, tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar apa-apa, seperti berada di alam kosong. Kemudian dia berdoa, ”ya Allah beri saya kekuatan, saya mau dijadikan apa ini…. ” Tiba-tiba di langit sebelah selatan (rumahnya kebetulan menghadap selatan) muncul bentuk-bentuk yang tidak teratur, semrawut, berdiri, seperti kayu-kayu. Thalib berpikir, ”ini apa?” Tahu-tahu bentuk yang tak teratur tadi membentuk huruf Arab, terlihat dari jauh, jelas, berbunyi: Usholli dan seterusnya……. (Thalib tidak berani mengatakan). Read the rest of this entry »
1 Comment
September 30, 2007 at 12:36 am (Misteri)
Pengalaman misteri yang dialaminya, memang bukan hanya satu dua kali saja terjadi. Bahkan sejak Thalib masih anak-anak, sudah pernah merasakan hal-hal yang ganjil menurut kacamata orang biasa. Dia masih ingat, waktu Thalib kecil pulang nonton wayang, malam-malam, jalan sendirian, sempat terbersit rasa takut lantaran bingung jalan menuju pulang. Tahu-tahu ada seorang lelaki yang menemani perjalanannya. Thalib mengikuti saja jalan yang ditempuh lelaki itu. Sampai suatu ketika, manakala jalanan sudah terasa jelas dikenal menuju rumahnya, tahu-tahu lelaki tadi menghilang. Entah kemana. Read the rest of this entry »
1 Comment