Bangga dengan Namanya

Lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931, sebagai anak keenam dari 9 bersaudara dari pasangan keluarga R. Wiroharjo dan Rr. Rusmini. Ayahnya seorang pamong desa, ibunya adalah juragan batik, keturunan ningrat Bataputih dan kerabat Ampel Surabaya. Namun Thalib lebih merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Wiroprasojo yang tinggal di kawasan Dander, Bojonegoro yang mengangkatnya sebagai anak. Satu hal yang dikenang dari ayah kandungnya adalah, “dia menulis huruf latin dengan logat Jawa, seperti langsung mentranskrip hanacaraka.”

Nama asli yang diberikan oleh orangtuanya adalah Thalib, ya hanya Thalib. Namun oleh gurunya ditambahi awalan Mun, menjadi Munthalib. Penghormatan terhadap ayah angkatnya, dilakukan dengan memberikan tambahan nama akhir Prasojo di belakangnya. Sebetulnya Thalib sendiri ingin tetap mempertahankan nama pemberian orangtuanya, namun dia juga ingin tetap menghormati gurunya. Maka diambil jalan tengah, dia selalu menuliskan namanya M. Thalib Prasojo. Jadi, kepanjangan huruf M itu bukan Muhammad atau Mas sebagaimana dugaan orang, melainkan kependekan dari Mun. “Biar semua senang,” katanya dengan gaya khas. Karena dia memiliki trah darah biru, ada hak menambahkan huruf R (Raden) di depan namanya. Belakangan, dia mendapat gelar Ki Ageng dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) Surakarta. Maka, kalau ditulis semua, nama lengkapnya adalah Ki Ageng Raden Mun Thalib Prasojo.

Sesuai dengan nama yang disandangnya, semboyannya adalah hidup sederhana, prasaja. Hidup bersahaja bagaikan petani, yang selalu tegar dan tak pernah bosan terus menerus menanam meski wabah dan cobaan mendera. Petani adalah manusia yang berjasa pada banyak orang, bahkan Bung Karno menyebut petani adalah Pahlawan. Itu sebabnya didirikan Patung Pahlawan di bundaran Kramat Raya Jakarta, berupa sosok sepasang petani, namun orang lebih mengenalnya sebagai Patung Tani.

Lepas dari Sekolah Dasar (dulu SR), Thalib mendapatkan ikatan dinas untuk masuk Sekolah Guru. Dengan agak terpaksa dia menjalani karena memang tak punya biaya untuk memilih sekolah sendiri. Waktu itu, ada peraturan bahwa siapa saja yang berhasil lulus test masuk Sekolah Guru bakal mendapatkan beasiswa. Tertarik dengan program sekolah gratis inilah maka Thalib mendaftar. Dari 12 temannya yang sama-sama lulusan SR, hanya Thalib sendiri yang lulus.

Sekolah Guru (SGB) hingga 4 tahun yang dipersiapkan menjadi Guru SD (waktu itu Sekolah Rakyat, SR). kemudian ditambah dua tahun lagi, masuk jenjang SGA sehingga berhak mengajar di SMP. Jenjang berikutnya adalah B-1, yang lulusannya berhak mengajar SMA. B-1 itulah yang kemudian menjadi embrio dari IKIP. Menurut Thalib, meski SGB hanya empat tahun, kualitas lulusannya bisa disamakan dengan Sarjana sekarang. Lulusan SGB malah mendapat golongan III kalau menjadi PNS.

Namun Thalib hanya menyelesaikan sekolah hingga tingkat SGA. Lulus dari SGA mengajar SD di Kedungpring, Bojonegoro. Ketika menjalani sebagai guru selama lebih kurang empat tahun (1949-1953), dia terus menerus gelisah. Setiap kali mendengar ada pameran lukisan, hatinya semendhal. Timbullah keinginan ingin meneruskan sekolah kesenian di Surabaya, namun terhalang oleh kewajibannya menjalankan ikatan dinas. Nekat, Thalib melakukan semacam desersi, pindah ke Surabaya, dan hidup bohemian. Di kemudian hari (sekitar 1954-1955) dia mendapatkan surat pemberhentian dengan hormat sebagai guru.

Selama di Surabaya, semangatnya yang kuat ingin melukis membawa langkahnya menjadi warga komunitas Sanggar Sudhung Gendhela yang dipimpin pelukis Indra Hadi Kusuma, lokasinya di bawah Hotel Olympic, Keputran. Tahun 1961, mulai ikut kegiatan Sanggar Bambu Kerabat Surabaya. Teman seangkatan yang masih diingatnya antara lain Sumadji, mantan kepala sekolah di Trosobo dan masih melukis. Pada tahun itu juga, Thalib sudah mampu mendapatkan penghasilan dari kesenian, terutama dari jasanya membuat relief. Disamping juga melukis potret. Sampai sekarang dia masih merasa sebagai kerabat Sanggar Bambu karena memang tidak pernah ada batas yang jelas kapan berhenti.

Tahun 1967, Thalib mendengar dibuka Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera), dan dia langsung mendaftar sebagai mahasiswa dengan usia paling tua, 36 tahun. Meskipun, waktu itu dia sudah sering membuat relief. Sehingga begitu masuk, langsung menjadi asisten dosen bernama Rio yang mengajar seni patung. Selama menjadi mahasiswa, dia menunjukkan ketekunannya, serius belajar, tidak pernah membolos, selalu ikut ujian. Bahkan, tidak sebagaimana kebanyakan mahasiswa lainnya, dia tetap rajin membayar uang kuliah. Sikap seriusnya ini tidak lepas dari kemauan kuatnya untuk membuktikan diri di depan saudara-saudaranya, yang sejak awal sudah meremehkan pilihannya menjadi seniman. Dia bayangkan, kalau sampai berhenti di jalan, wah betapa malunya. Dalam bayangan mereka, yang namanya seniman itu selalu berpakaian lusuh, bersandal jepit, miskin. Itulah sebabnya dia berusaha tampil necis, tidak pernah berpakaian lusuh. Minimal di depan saudaranya tidak memalukan. Sampai di kemudian hari, ketika saudaranya itu sudah pensiun, lantas pinjam uang pada Thalib, dia langsung menolaknya, namun dengan rela hati malah memberikannya.

Sikap seperti itu yang ditujukan terhadap kakaknya didasari anggapan, kapan lagi dia dapat membalas jasa baik kakak-kakaknya. Prinsipnya, jangan sampai bersikap berani pada orangtua, berani pada saudara yang lebih tua. Bagaimanapun kakaknya pernah menggendongnya, pernah membersihkan kotorannya (menceboki), sementara Thalib sendiri merasa belum pernah menggendong atau mencebokinya. Jasa kakak-kakak dan orangtuanya adalah jasa yang tak akan pernah terbalas.

Tahun 1972, ketika Aksera bubar, Thalib sudah berada di luar. Toh selama itu dia masih tetap berhubungan dengan komunitas Aksera, termasuk ikut serta mengerjakan proyek besar PON VII (1968/69) yang waktu itu dipusatkan di Surabaya. Dalam perjalanannya, Thalib mampu mencatatkan diri sebagai salah satu alumni Aksera yang masih terus menerus melukis hingga puluhan tahun lamanya.

Setelah beberapa kali tinggal di rumah kontrakan, kawasan Ploso Bogen, kemudian di kampung Kilometer, dan beberapa tempat lagi, kemudian membeli rumah di kawasan Jalan Gresik Surabaya. Ketika istrinya meninggal, Thalib pindah ke Sidoarjo (1996). Di kota inilah lelaki yang juga punya kemampuan membuat patung ini sering menjadi sasaran curhat seniman-seniman muda. Ia seperti tak tega membiarkan anak-anak muda kehilangan pegangan. Dalam usianya yang sudah senja itu, toh dia masih setia menjadi pengajar melukis Sekolah Minggu Aksera di Dukuh Kupang, serta menjadi guru seni rupa di SMKN XI (dulu SMSR) di kawasan Siwalan Kerto Surabaya (1996). Dan ketika usianya memasuki 70 tahun, jabatan sebagai guru yang sejak lama ingin dilepas namun selalu digandoli oleh pihak sekolah itu akhirnya ditinggalkannya.

Perihal keterlibatannya menjadi guru ini ada kisahnya sendiri. Meski pernah sekolah guru dan menjadi guru, Thalib sebetulnya enggan mengajar lagi. Namun waktu itu, dia disambati anaknya (Nunik) yang menjadi guru di Mojokerto supaya dapat pindah ke Surabaya. Karena waktu itu Thalib sering berinteraksi dengan aktivitas di SMSR, maka dia meminta bantuan kepala sekolah agar dapat menerima anaknya menjadi guru di situ. Apa jawaban kepala sekolah. “Boleh-boleh saja anak Pak Thalib menjadi guru di sini, syaratnya hanya satu, Pak Thalib sendiri juga mau menjadi guru di SMSR.” Sebelumnya, dia memang sering juga mengajar, namun hanya sambilan, hanya kalau dipanggil. Meskipun, dia sering jadi sasaran praktek PSG (Pendidikan Sistem Ganda) di rumahnya oleh siswa-siswa SMSR.

Atas prestasi dan dedikasi sepanjang hidupnya itulah Thalib Prasojo mendapatkan penghargaan sebagai budayawan Jawa oleh Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) dengan gelar Ki Ageng dengan konsekuensi wajib mengajar Kejawen dan mendapat Bintang Emas sebagai Pembina Budaya (2004). Penghargaan ini diberikan karena pengabdiannya terhadap kebudayaan Jawa lebih dari satu dekade dan secara terus menerus. Dengan predikat tersebut, dia berkewajiban mengajarkan kebudayaan Jawa pada orang lain. Satu tahun kemudian (2005), Penghargaan Seni Budaya diterima dari Gubernur Jawa Timur atas dedikasinya terhadap seni budaya di Jatim. (*)

1 Comment

  1. August 5, 2010 at 12:51 am

    selamat jalan eyang-bapak-guru-sahabat kami…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: