Bertekad Menjadi Pelukis

Berada dalam saudara kandung yang semuanya pandai menggambar, sejak kecil Thalib memang bercita-cita menjadi pelukis dan hanya dialah satu-satunya yang kemudian menekuni seni lukis sebagai profesinya. Saudara-saudaranya merasa heran dengan tekatnya. Sebagaimana anggapan umum, sulit dipahami bagaimana mungkin menjadi pelukis dapat dijadikan pekerjaan tetap dan sandaran hidup.

“Mengapa kamu nekat jadi pelukis,” tanya salah seorang saudaranya.

“Supaya bisa masuk tivi dan ditulis di koran,” ujarnya berseloroh.

Thalib memang lelaki humoris, banyak koleksi anekdot yang dimilikinya. Bukan sekadar humor, melainkan catatan pengalaman pahit, lucu dan menggelikan yang dialaminya. Dan memang begitulah, namanya di kemudian hari menjadi jauh lebih populer ketimbang saudara-saudaranya yang yang jadi guru atau tentara.

Darah seni nampaknya menurun dari ibunya, yang menjadi pembatik piawai di kampungnya pada waktu itu. “Saya pernah keliling satu kecamatan, tidak ada orang yang pandai melukis batik seperi ibu saya,” kenangnya. Ibunya yang asli Surakarta itu adalah satu-satunya orang yang membatik (melukis dan juga menjadi juragan) di kampung itu. Hal yang masih diingatnya, masa kejayaan ibunya terjadi pada jaman penjajahan Belanda. Pegawainya banyak. “Bahkan saya pernah lihat ada uang satu guci di rumah,” kenang Thalib. Namun jaman Jepang, ibunya bangkrut. Tidak ada kain, bahkan untuk pakaian biasa sekalipun, apalagi batik. Masa suram ini berlangsung sampai jaman merdeka dan tidak bangkit lagi. Thalib sendiri ketika kecil suka membantu ibunya membatik. Biasanya diberi tugas nemboki (ngeblok) atau menutup bagian belakang kain batik dengan malam. Ternyata dia pernah keliru mengerjakan, Thalib dihukum, disuruh mengerok kembali. Meski demikian, Thalib akhirnya tidak tertarik untuk meneruskan membatik, lebih suka melukis sketsa.

Sementara itu, ibunya memang suka melukis. Selain melukis untuk kepentingan batik, dia juga melukis wayang, kembang, dan figur tokoh-tokoh pewayangan. Karya lukisnya yang masih tersimpan hingga sekarang adalah sebuah buku tulisan tangan yang dibuat ayahnya, namun diberi gambar-gambar ilustrasi oleh ibunya. Menggunakan tinta bak, pewarna sumba dan prada yang biasa untuk melukis batik. Isi buku itu sendiri sebetulnya tidak luar biasa, berkisah mengenai fragmen walisongo dan ajaran-ajaran Jawa, namun ilustrasinya yang menarik dicermati.

Kenangan kecil lain yang tidak terlupakan hingga sekarang adalah ketika Thalib kecil terbangun di tengah malam, dia mencium aroma lilin terbakar, itu berarti ibunya sedang membatik. Kemudian terdengar suara desis meniup canting untuk membatik. Waktu itu yang ada di kepala Thalib kecil adalah, ibunya sedang mengerjakan order membatik, berarti punya uang, dan itu juga berarti Thalib akan mendapat uang saku sebesar 1 (satu) sen, cukup untuk membeli kue serabi dan dawet. Kalau tidak, biasanya hanya mendapat uang saku sitheng (setengah sen) yang hanya cukup untuk membeli kue serabi. Ketika Thalib bangun pagi, dia dengar ibunya meneruskan wiridan sambil menyapu. Wiridannya terdengar tidak fasih, namun suaranya merdu dan mengharukan. Subkanallah, seperti lafal Islam Jawa (bukan subkhanallah).

Sebagai pelukis, sosok yang dikaguminya adalah Raden Saleh. Pertama-tama karena jiwa nasionalismenya. Pada Picasso, dia kagum perjuangannya, Kadinsky juga suka, demikian pula terhadap Matisse. Namun Thalib berharap, jangan disalahkan kalau dia tetap mengagumi dan menjadikan Raden Saleh sebagai idolanya. Thalib menyebut dirinya pelukis realis, bukan naturalis. Sebab, hidup di dunia ini adalah sebuah realita. Adanya ya seperti itu. Malah menurutnya yang disebut lukisan abstrak itu tidak ada. Yang ada yaitu abstraksi. Sebab, kalau memang disebut abstrak tentunya tidak bisa digambar. Tapi kalau lukisan yang idenya berasal dari sesuatu yang abstrak, itu memang dapat diterima.

Thalib mengaku sering bertemu teman yang tidak merasa yakin dirinya disebut pelukis. Padahal hidup matinya tergantung dari pekerjaannya melukis. Masmundari, pelukis damarkurung dari Gresik itu adalah pelukis, termasuk juga para pelukis yang menjajakan karyanya di pinggir jalan Kartini Surabaya. Jadi, mengapa sebutan pelukis harus dipahami dalam pengertian sebagai pelukis modern?

Konteks, itulah yang menjadi pegangannya. Seperti sering dikatakan orang pada dirinya, bahwa Thalib dianggap terlalu murah menjual lukisan atau sketsa, dia merasa bahwa harus dilihat konteksnya. Mahal tidaknya harga lukisan, tergantung dari sikap pelukis itu sendiri. Bagi seseorang, harga satu juta rupiah misalnya, bisa jadi dianggap terlalu murah. Namun bagi pelukis lain, hanya setengahnya saja sudah sangat berharga. Thalib sudah membuktikan bahwa dengan seni rupa dia mampu hidup dan menghidupi keluarganya. Jadi, besar kecilnya nilai uang tidak memiliki makna yang sama pada setiap orang.

Disamping alasan-alasan yang rasional, sebetulnya tekadnya menjadi pelukis ada hubungannya dengan wangsit yang dia terima. Suatu waktu, Thalib mengontrak rumah di sisiran, yaitu berada disamping rumah induk. “Selama dua tahun saya jalan seperti kepiting,” kisahnya mengenang. Sebab, ruangan kecil yang ditempati hanya cukup untuk ranjang, sehingga sisanya hanya cukup untuk berjalan miring. Hampir setiap malam bertahan tidak tidur, melekan, prihatin, sambil menunggu giliran air mengalir. Sampai suatu malam, sekitar pukul 1.30 dini hari, tahu-tahu ada orang di dalam kamar. Padahal pintu tertutup, digrendel dan dikunci, tapi tahu-tahu membuka dengan sendirinya. Orang itu pakai blangkon, baju beskap hitam, jaritan dan tidak bersandal. Thalib mengira, dia saudara dari desa yang datang berkunjung karena diberi alamat oleh saudaranya yang lain. Sebab dia sama sekali tidak mengenalnya.

Thalib bergegas hendak bangun, namun dicegah tamu misterius itu. Dia dilarang bicara dan menanggapi, hanya mendengar saja. Tamu itupun berkata, bahwa lima tahun lagi Thalib bakal punya rumah. Terjadilah dialog, Thalib ditantang untuk memilih, pekerjaan apa yang hendak ditekuni, dalang atau nyungging (melukis). “Melukis saja,” jawabnya. Dikatakan, nama Prasojo itu sudah bagus. “Tahu artinya?” tanya tamu itu. Lantas dikatakan, bahwa hidupnya nanti bakal mulia di kemudian hari. Yang akan menikmati adalah anak-anaknya. “Mau menebus?” Thalib menjawab, “mau”. Setelah itu, tamu tadi pamit dan keluar kamar. Thalib bergegas ingin memburu, langsung tertabrak pintu, karena ternyata pintu itu sejak semula memang dalam kondisi tertutup. Sudah tahu begitu, dia masih menyempatkan diri membuka pintu, dan mencarinya di luar. Tentu saja tidak ketemu.

Dalam komunitas pelukis, Thalib memang memiliki posisi yang tidak menonjol. Dia tetap ada meski tidak populer, jarang pameran, apalagi pameran tunggal yang baru lima kali sepanjang hidupnya, dan juga jarang diulas karyanya di media massa. Meski demikian, adanya seorang Thalib itu justru mampu bertahan hingga puluhan tahun ketika banyak nama-nama lain sudah tenggelam, atau sudah meninggal dunia. Dalam usianya tepat menginjak angka 75 tahun (2006), Thalib masih berani menggelar pameran tunggal. Dia keluarkan semua kebisaannya dalam seni rupa. Dia ingin buktikan, dalam kondisi apapun, dia masih tetap melukis, masih berkarya, tidak pernah mengenal kata pensiun. Sebuah etos kerja yang tidak banyak orang memilikinya,

Ada orang yang memposisikan Thalib sebagai seniman yang tanggung. Mereka mengolok-olok Thalib ibarat orong-orong: Bisa terbang tapi tidak tinggi, bisa lari tidak kencang, bisa berbunyi tapi tidak keras. Dan ternyata, meski Thalib menolak dirinya disamakan dengan orong-orong, dia tidak tersinggung. Memangnya kenapa kalau terbang rendah, lari pelan dan berbunyi tidak keras? Begitu alibinya. Tidak ada keharusan bahwa pelukis harus menjadi selebritis. Hidup tenang tanpa menjadi terkenal, adalah perwujudan prinsip hidup prasaja, sederhana. Bukan berarti menolak ikut Biennale, kompetisi dan semacamnya. “Yang penting saya tetap jalan sajalah, perkara ada kesempatan untuk itu, alhamdulillah,” jawabnya. Dia menolak membuat target, nanti seperti pemerintah, katanya. Yang paling utama adalah terus dan tetap berkarya. Orang harus tahu, bahwa Thalib tidak pernah menganggur. Perkara orang tidak mengenal namanya, tidak menjadi persoalan. Tidak perlu harus mengatakan, misalnya, “masak gak kenal saya.” Perkara dalam peta seni rupa Indonesia, orang tidak mengenal nama Thalib, itu juga bukan soal yang harus dirisaukan. Kalau mau dicatat dalam sejarah, silakan. Mungkin dimasukkan sebagai pelaku lokal misalnya. Pelukis, bagi dia, bukan sesuatu yang sakral. Karena pelukis itu hanya merupakan salah satu jenis pekerjaan.

Bagi Thalib, menjadi pelukis itu sebuah tuntutan hidup. Biar dia diberi pekerjaan seperti apapun, kalau dilarang melukis misalnya, pasti ditolak. Tujuan melukis itu untuk membuat hidup genah, apik luar dalam. Thalib mengaku tidak akan berani menasehati orang lain kalau belum merasa dirinya sendiri benar. Jadi hidup harus hati-hati. Eling lan waspada. Waspada itu laku fisik, eling itu laku batin.

Kalau toh ada yang mengatakannya bodoh, silakan, dikatakan kuper (kurang pergaulan), tidak punya visi, juga silakan saja. Menurutnya, orang seringkali bersikap tidak adil. Mengapa harus ada perlakuan yang sama untuk jenis benda yang sama? Bukankah ada benda yang jenis dan rupanya sama, tetapi namanya tergantung tempatnya berada. Rambut contohnya, sama-sama rambut namun namanya bisa berubah tergantung tempatnya di bagian tubuh yang mana. Maka diantara para pelukis lainnya, Thalib merasa ibarat sebagai sama-sama rambut namun beda tempat itu. Di tempat yang dia berada itulah dia merasa jenak karena merasa memiliki dirinya sendiri.

Pernah ada yang bertanya, apa dia tidak ingin kaya? “Tidak,” jawabnya tegas. Bukan soal kaya, tapi mampu. Kalau saya tidak merasa butuh, saya tidak berangkat. Bill Gates, nama yang identik dengan komputer itu, pernah ditanya, kenapa di rumahnya justru tidak ada komputer? Dia menjawab, “saya tidak butuh”. Demikian pula bagi Thalib, tidak merasa perlu memiliki mobil karena memang tidak butuh. Harus dibedakan antara butuh dan ingin. Seperti ajaran Budha, bahwa yang membuat manusia tidak bahagia itu karena dijajah oleh keinginannya. Karena itu obsesinya sederhana saja, yaitu tetap seger waras dan banyak saudara. Semakin banyak saudara, semakin banyak yang mendoakan, banyak yang siap menolong, saling memberi. Itulah yang namanya kaya yang sesungguhnya.

Dia katakan, jangan jadi seorang pelukis jika sekadar pingin mobil. Bilamana seorang seniman telah menjatuhkan pilihannya berprofesi menjadi pelukis, maka hasil karya seninya harus mengedepan sehingga mendapat apresiasi terbaik dari masyarakat. Lebih baik menonjolkan karya daripada harta. Kalau jadi pelukis, ya apapun harus diterima. Kalau sekadar bisa beli mobil, ya bakul kerupuk pun bisa membeli mobil. Jadi, kalau sekadar harta yang dicari, itu bisa mendangkalkan nilai seni itu sendiri. Sebagai seniman, Thalib mengaku tidak pernah lelah, walaupun sekarang ini berada pada usia lanjut. Proses kreatif dan pencarian obyek untuk sketsa tidak pernah berhenti hanya karena penuaan diri. Sebab itu, jika sedang berada pada suasana gembira ketika mendapatkan limpahan rejeki dari hasil lukisan, ia pun tidak larut dalam gelimangan harta benda. “Bagi saya duit itu menakutkan karena tidak setiap hari dapat uang gede. Sebagai pelukis, sekali tempo memang dapat uang gede,” ujarnya. Jerih payahnya sebagai seniman telah membuahkan hasil baik karena keempat anaknya dapat menikmati jenjang pendidikan tinggi hingga tingkat sarjana. Meskipun, selama menggeluti profesi sebagai seniman, ia pun sempat menghadapi kesulitan keuangan untuk membiayai kelangsungan pendidikan anak-anaknya.

Tanpa terasa, sejak anak pertamanya lahir sampai dengan anak keempat, terdapat rentang waktu sepanjang 36 tahun. Dalam kurun waktu itulah dia berkutat diri dalam persoalan-persoalan ekonomi untuk menghidupi anak istrinya dengan masih tetap menjadi seniman, terutama seni terapan. Maka begitu keempat anaknya sudah mandiri, Thalib kembali lagi ke habitatnya sebagai pelukis, perupa, aktif pameran dan berkesenian. Dia nyaris tak pernah menolak ajakan pameran bersama, meski bersama kalangan pelukis muda yang masih pemula. Pameran tunggal yang sangat mengesankan adalah, dia memberikan kado bagi dirinya sendiri saat berulang tahun ke-75, berupa pameran tunggal di Sanggar Aksera dengan memamerkan semua representasi karyanya. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: