Dunia Organisasi

Sebetulnya tidak banyak yang diceritakan tentang keterkaitan Thalib dengan dunia organisasi. Sebab, meski temannya ada dimana-mana, dia kurang suka terikat dengan satu kelompok tertentu secara permanen sehingga mengganggu independensinya sebagai seniman. Yang jelas, ketika Thalib mulai masuk ke Surabaya, dunia politik negeri ini memang sedang panas. Terjadi percobaan kudeta di Jakarta. PKI melakukan pemberontakan, dilawan oleh tentara. Dan situasi perlawanan ini juga berimbas pada wilayah kesenian. Seniman Golongan Kiri dengan Lekranya, berhadapan dengan seniman yang berada dalam naungan kekuatan nasional dan agama.

Tersebutlah nama Indra Hadi Kusuma, yang waktu itu menjadi guru melukisnya, berasal dari kelompok Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang berafiliasi dengan PNI. Tentu saja Thalib juga ikut pergerakan bersama dengan LKN tersebut. Misinya menentang Lekra, meski tidak secara frontal, karena orang LKN dikenal sabar-sabar. Teman seangkatannya adalah pelukis Sochieb, yang berada di barisan Lesbumi. Sementara Balai Pemuda dikuasai Rustamadji cs, dari Lekra. Baru ketika situasi politik berubah, Lekra tumbang, barulah para pelukis non-PKI itu bisa masuk ke kompleks Balai Pemuda.

Meski sempat bangga menjadi orang LKN, Thalib tidak pernah masuk resmi sebagai anggota PNI, bahkan sampai di kemudian hari juga tak pernah tertarik masuk partai politik. Ini terkait dengan pengalamannya ketika Pemilu pertama tahun 1955, dia mencoblos PNI yang waktu itu dikenal Banteng Segi Tiga. Ternyata, menurut Thalib tidak ada efek apa-apa di masyarakat. Rejim sudah berubah, penguasa sudah berganti, namun Thalib tetap tidak pernah tertarik masuk politik praktis. Bahkan sebatas ormas atau organisasi semacam itu. Dalam perjalanannya, organisasi yang pernah dia masuki hanya Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dimana dia pernah duduk dalam Biro Seni Rupa. Kemudian ketika pergantian pengurus pindah posisi dalam biro Litbang. Dan ketika pindah domisili di Sidoarjo, Thalib tak berada dimana-mana. Paling-paling ada seniman-seniman muda yang memintanya sebagai pengarah, penasehat atau posisi semacam itu.

“Saya menghadapi hidup ini bagai air mengalir. Tak ada sesuatu yang saya pandang istimewa, toh hidup kita ini diatur oleh Yang Maha Kuasa,” ujar lelaki yang selalu tampil kalem ini. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: