Lukisan Kejawen

Karya-karyanya dua dimensi berupa lukisan, tetap saja menjadikan dunia wayang dan kejawen sebagai nafasnya. Penguasaannya terhadap wayang tidak perlu diragukan. Dan Tanpa harus menjadi dalang pergelaran wayang, Thalib dapat memainkan wayang-wayang yang dikehendakinya bagaikan sedang mendalang di atas kanvas. Tanpa harus merubah bentuknya seperti manusia, sosok-sosok wayang yang dilukis Thalib diberikan konteks baru dengan komposisi dengan elemen-elemen lainnya.

Misalnya saja, Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi, adalah salah satu lukisannya yang menggambarkan sosok-sosok pewayangan: Hanoman, raksasa, pasukan kera. Ini cerita soal Tripama, yang berkisah soal nasionalisme ala Kumbokarno. Dikisahkan, Kumbokarno adalah raksasa yang berhati bijaksana, meskipun memiliki kakak yang dikenal angkara murka, Rahwana. Ketika kemudian Rahwana harus berperang melawan Rama, maka Kumbokarno bersikap pasif, memilih tidur panjang ketimbang harus berperang membela kakaknya yang durhaka. Tentu saja, sang kakak marah, dia menagih jasa-jasa yang pernah diberikan oleh ibu mereka. Kumbokarno lantas memuntahkan semua isi perutnya, sebagai lambang dia tak sudi menerima pemberian makanan. Tetapi ketika Rahwana menagih air susu ibu, Kumbokarno tak berkutik. Terpaksa, raksasa bijak itu harus bersiap maju perang berhadapan dengan pasukan Rama. Mengenakan busana putih-putih, Kumbokarno maju ke medan laga. Motivasinya, dia bersedia maju perang bukan karena membela kakaknya yang memang bersalah, namun sebagai bukti kesetiaannya pada negara. Right or Wrong is My Country, adalah semboyannya yang terkenal itu. Kumbokarno akhirnya gugur, dewa-dewa menangis, bunga-bunga berguguran dari langit, tangisan pilu membahana di padang laga.

Sebuah lukisannya berjudul “Putih, Kuning, Abang, Ireng” menggambarkan empat naga penyangga bumi. Ada yang menafsirkan, keempat naga itu simbol empat macam nafsu manusia: aluamah, amarah, supiah, mutmainah. Bahwa bumi ini perlu dijaga, karena selama ini selalu diperlakukan tidak adil. Bumi diinjak-injak, dikencingi, diberaki, direkayasa untuk kemakmuran manusia, namun manusia itu sendiri tidak pernah melakukan penghormatan yang semestinya terhadap bumi. Semburan lumpur Lapindo itu hanya salah satu sinyal, bahwa bumi sedang meluapkan kemarahannya. Tapi dalam interpretasi yang lain, keempat naga itu juga melambangkan sedulur papat.

Ada lukisan yang memaparkan asal usul manusia, sejak masih berada dalam gua garba. Menurut Thalib, banyak orang yang enggan untuk mempelajari asal usulnya sendiri. Banyak yang tidak hirau terhadap asal mula terciptanya dirinya sendiri sebagai manusia. Mengapa saya dilahirkan? Siapakah bapak saya, siapa ibu saya, bagaimana proses terjadinya diri saya? Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan wajar, sederhana, namun justru jawabannya yang sangat menentukan keberadaan kita hingga menjadi orang seperti sekarang ini. Diam-diam Thalib suka memandangi foto-foto proses kelahiran manusia, sejak masih berupa noktah hingga menjadi jabang bayi manusia kecil.

Meski mengaku pelukis realis, namun realitas yang hadir di atas kanvasnya bukanlah hasil rekaman pandangan mata. Sosok candi Dieng pernah dilukisnya, namun dalam satu kanvas yang sama ditambahkan ada bangunan bebatuan dengan relief wayang (Semar berwajah Bethara Guru, melambangkan wong cilik yang bergagasan Kahyangan) dan sosok manusia di bawah pepohonan. Kemudian di latar depan nampak bebatuan seperti prasasti bertuliskan aksara Jawa yang berbunyi: Janggan Asmoro Santo (nama Semar tersebut). Lukisan itu berjudul “Candi Dieng dan Janggan Asmoro Santo” yang dibuatnya tahun 2005. Orang-orang kecil yang digambarkan di relief itu melambangkan hidup dari pertanian dan dunia tumbuhan, yang baru ditakuti kalau “berwajah” penguasa. Candi Dieng konon merupakan candi tertua di Jawa. (*)

3 Comments

  1. Nuga said,

    November 1, 2007 at 7:55 am

    mari me-nguri-uri budaya jawi…salaam

  2. February 24, 2009 at 7:21 pm

    bagaimana jadi anggota???

    • mthalib said,

      September 13, 2009 at 6:05 pm

      Posisi dimana? mau jadi anggota kalo ke sidoarjo ya gabung aja…. tidak formal kok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: