Menjadi Manusia

Bagi seorang Thalib, meski telah bertekad menjadi seorang pelukis, tidak berarti lantas menyisihkan tanggungjawabnya sebagai kepala rumahtangga. Tujuan hidup yang dicanangkannya adalah untuk menjadi manusia. Sesuai dengan fitrah. Tidak jadi yang lain, misalnya jadi malaikat, jadi demit dan sebagainya. Jangan melanggar kodrat. Qadla dan Qadar. Usahalah sekuat tenaga, terserah hasilnya seperti apa. Yang penting terus melukis, mbuh dadine. Entah bagimana jadinya.

Sebagai seniman, katanya, mestinya tidak boleh patah arang. Gagal sekali atau dua kali bukan menjadi alasan perupa tidak berkarya. Kegagalan mestinya menjadi guru yang terbaik. Karena itu dia sering menyampaikan pada perupa lain, termasuk yang muda, agar menerapkan “ilmu petani”. Panen padi boleh saja gagal, namun petani selalu menanam lagi. Gagal panen karena dimangsa tikus misalnya, tidak membuat petani jera, namun justru masih menanam lagi. “Coba kalau petani mutung tidak mau menanam padi lagi, mau makan apa orang sebanyak ini,” ujarnya.

Bahkan, dia rela gagal menjadi pelukis ketimbang gagal menjadi kepala rumahtangga. Dan itu terbukti, hanya dengan mengandalkan profesinya sebagai pelukis dan perupa, dia telah berhasil mendidik keempat anaknya menjadi sarjana semua.

Pertama, Nunik Sri Rahayu, sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Negeri Surabaya, mengajar di SMKN XI Surabaya.

Kedua, Basuki Triono, sarjana Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret Surakarta, wartawan

Ketiga, Ninil Kurniawati, sarjana pendidikan Matematika IKIP Negeri Surabaya, ibu rumahtangga.

Keempat, Teguh Kurniawan, sarjana Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Anak ketiga dan keempat itu sebetulnya pintar menggambar, namun tidak ada yang berani menjadi pelukis. Mereka tidak yakin bahwa menjadi pelukis dapat dijadikan sandaran hidup. Buktinya, “Bapak sendiri sering telat membayar SPP…” kata anaknya. Itu kan dulu….

Kepada empat anaknya itulah Thalib selalu bertindak hati-hati agar dapat menjadi contoh yang baik bagi mereka. Baginya, kalau orangtua kurang prihatin, maka bakal cures keturunannya. Artinya, kalau orangtua berbuat aib, maka anak-anaknya akan ikut menanggung malu sehingga berakibat buruk pada masa depannya. “Kalau saja bapak saya tidak seperti itu…..” kan ada anak yang berpikiran begitu. Bahkan tidak jarang ada cerita anak yang sampai keluar dari sekolah hanya gara-gara dampak kelakuan ayahnya yang tidak terpuji.

Tidak ingin punya sanggar? “Saya senang seperti Markeso, kemana-mana membawa dirinya sendiri, tanpa perlu perlengkapan apa-apa. Saya takut berbohong,” katanya. Toh jiwa pendidiknya membuat tak pernah berdiam diri untuk memberikan nasehat pada anak-anak muda yang datang ke rumahnya, baik untuk praktek kerja, tugas sekolah, sekadar silaturrahim atau yang memang sengaja minta nasehat padanya. Thalib memang suka ngemong sehingga selalu dituakan oleh kalangan seniman.

Dalam usianya yang sudah lanjut itu, semangat dan gairah untuk berbagi ilmu dan pengalamannya bagaikan air yang terus mengalir. Ketika mengajar di SMSR (SMKN XI) dan juga Kursus Melukis di Sanggar Aksera, honor yang diterimanya tentu tidak seberapa, bahkan nyaris tak sebanding dengan transportasinya. Bukan sekadar ongkosnya, tetapi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan jauh dari rumahnya di kawasan Celeb Sidoarjo menuju Siwalan Kerto Surabaya itulah yang membutuhkan perjuangan tersendiri. Apalagi, Thalib dikenal sebagai orang yang disiplin, selalu tepat waktu. Dan belakangan kesehatannya yang menurun, membuat tak mampu lagi berjalan kaki berlama-lama seperti dulu. Itulah alasannya ketika dia harus pamitan berhenti mengajar di SMKN XI Surabaya.

Tetapi menyaksikan anak didiknya berhasil dalam mengarungi kehidupan, merupakan kepuasan batin tersendiri yang tak ternilai harganya. “Kepuasan batin tidak bisa diukur dengan materi. Betapa senangnya saya ketika bertemu anak didik saya yang kuliah di ISI Yogyakarta dan kemudian menjadi orang,” katanya. Disiplin, dedikasi dan integritas seorang Thalib Prasojo sedikit banyak ikut mengangkat kewibawaan sekolah kejuruan seni rupa itu. Ketika dia diminta komentar terhadap karya muridnya, sarannya hanya satu. “Kurang.” Muridnya bertanya lagi, “kurang apa Pak?” Maka Thalib pun menjawab singkat, “kurang sering latihan.” (*)

1 Comment

  1. ron said,

    March 21, 2008 at 12:18 pm

    halo, saya ronni, saya ingin menanyakan info tempat kursus melukis di daerah yogyakarta-magelang yang memiliki pembimbing yg berpengalaman dan dapat mengarahkan dengan baik, karena saya ingin belajar untuk melukis dan blm tahu mencari tempat di sekitar saya,saya sangat berharap untuk jawabannya, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih- rone_mantra@yahoo.co.id


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: