Misteri tentang Isteri

Tahun 1959 ketika punya niat menikah, ternyata diketahui kemudian bahwa calon istrinya itu adalah anak seorang janda, sulung dari 12 bersaudara. Semua keluarganya tidak setuju, marah, karena Thalib akan menikah dengan anak yatim, sulung, yang punya 11 adik. Kecuali, ayah dan ibunya, yang bersikap lebih menyerahkan pada Thalib sendiri.

“Sudah dipikir?” tanya orangtuanya.

“Sudah,” jawab Thalib mantap.

Namun kakaknya, paling menentang sikap Thalib yang dianggapnya seperti kebo nantang pasangan. Dikatakan kakaknya, anak janda tidak apa-apa, yatim juga gak masalah, tapi dia anak sulung dari 12 bersaudara. Tapi karena tresno, Thalib jalan terus.

Kepada guru spiritualnya, Thalib curhat. “Namanya siapa?” tanya gurunya. “Sumiyatun,” jawabnya. Lantas gurunya menyarankan, agar namanya ditambahi “Sri” di depannya. Makna Sumiyatun itu sendiri sudah bagus, bahwa di kemudian hari anak-anak yang lahir dari rahimnya akan hidup mulia. Penambahan nama “Sri” itu dimaksudkan agar selain bakal mendapatkan kemuliaan, juga mendapatkan rejeki. Mengacu pada Dewi Sri, dewi padi.

Berstatus penganten baru, pindah ke Surabaya, meski Thalib sendiri masih belum jelas kerjanya, langsung membawa tiga adik istrinya, semua laki-laki. Yang pertama tamat SMP, yang dua sama-sama hanya lulusan SD. Menurut hitungan normal, memang sangat berat menanggung hidup mereka. Apalagi rumah masih kontrak. Toh ternyata bisa jalan. Beruntung ketemu teman yang membutuhkan pekerja lulusan SMP. Selesai sudah sebagian persoalan ekonomi. Adik yang satunya, ada yang minta menjadi kru kapal di Perak. Lumayan, beban hidup sudah agak ringan, karena kedua adik istrinya tadi sudah bisa sedikit membantu perekonomian. Sampai dengan Thalib punya anak tiga, rumahnya juga masih kontrak. Baru bisa membangun rumah sendiri ketika memiliki anak keempat.

Ketika kemudian istrinya meninggal dunia (1993), setelah 100 (seratus) hari anak-anaknya bertanya, “apa tidak cari pengganti?” Thalib menjawab, nanti setelah 1000 (seribu) harinya. Sebab dia berpikir, tidak ada pengganti juga tidak apa-apa. Tiba hari yang dijanjikan, anak-anaknya bertanya kembali. Maka Thalib mengumpulkan keempat anaknya, meminta persetujuan semuanya. Kalau ada satu saja yang tidak setuju, Thalib menolak cari pengganti istrinya. “Saya tidak mau kehilangan anak, sebab anaklah yang nanti bisa mendoakan setelah mati,” katanya.

Sampai kemudian, dia berkenalan dengan kakak kelas dari anaknya, namanya Sri (lahir di Kediri, 1959). Ternyata, Sri anak yatim, ayahnya sudah meninggal dunia. Thalib pun meminta calon istrinya itu, agar bertanya pada ibunya, apa mau dinikahi dengan duda beranak empat, sudah punya cucu lagi. “Terserah yang menjalani,” jawab ibunya. Maka Thalib pun kaget ketika kemudian tahu nama ibunya, yaitu Sumiyatun. Persis seperti nama almarhum istrinya. Jadi nasehat gurunya dulu (1959) menjadi abadi ketika Thalib menikah lagi (1996). Janji kemuliaan bagi anak-anaknya juga seakan terabadikan dalam nama istri keduanya ini, yaitu Sri Mulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: