Nasib Guru: Kepuasan Batin Tak Bisa Diukur

Usianya sudah uzur, tetapi semangat dan gairah untuk berbagi ilmu dan pengalaman, bagaikan air yang terus mengalir. Imbalan honor sebagai guru tidak tetap bukan motif utama, melainkan kepuasan batin tatkala melihat anak didiknya berhasil dalam mengarungi kehidupan.

Waktu itu sekitar tahun 1996, saya diminta Pak Suparno membantu mengajar seni rupa SMSR. Merasa terpanggil untuk mengembangkan seni rupa di Surabaya, saya pun rela membagi ilmu dan pengalaman kepada anak-anak tanpa bepikir imbalan gaji,” kata pengajar seni patung dan sketsa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Thalib Prasojo (75).

Cita rasa sekolah seni rupa yang kini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 11 ini sangat terasa oramanya. Di sekeliling tembok bagian luar sekolah dihiasi aneka lukisan mural. Berdiri 1986

Sejarah sekolah seni rupa ini berawal dari sebuah gagasan, keinginan, sekaligus pertanyaan dari Kepala Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surabaya Suparli. Dia mempertanyakan, mengapa kota besar seperti Surabaya ini tidak memiliki sekolah seni rupa?.

Baru pada 1986, SMKI membuka jurusan seni rupa dengan program studi seni lukis dan grafis komunikasi. Sebelumnya, sekolah ini cuma memiliki jurusan seni tari, pedalangan, dan karawitan.

Hebatnya, setelah sekian tahun menjadi bagian dari SMKI, jurusan seni rupa berubah status menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa Surabaya. Keputusan ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 14 Maret 1989 Nomor 0135/O/ 1989.

Sekolah seni rupa satu-satunya di Provinsi Jawa Timur ini pun akhirnya berubah status menjadi SMKN 11 Surabaya pada tahun 1996/1997. Bersamaan dengan perubahan status tersebut, sekolah ini tidak lagi terfokus pada program studi seni rupa, tetapi meluas dengan program jurusan lain, seperti desain grafis dan animasi, kriya tekstil, kriya kayu, kriya logam, teknologi informatika, dan teknik mesin industri.

“Program keahlian seni rupa masih tetap merupakan unggulan dan identitas SMSR,” kata Ketua Program Keahlian Seni Rupa SMKN 11 Surabaya Farid M’ruf.

Perjalanan dan eksistensi sekolah kejuruan ini tidak bisa lepas dari idealisme pengajarnya, seperti Thalib Prasojo yang tidak pernah surut mengabdikan dirinya sebagai pendidik, walaupun berstatus sebagai guru honorer.

“Kepuasan batin tidak bisa diukur dengan materi. Betapa senangnya saya ketika bertemu anak didik saya yang kuliah di ISI Yogyakarta dan kemudian berhasil menjadi orang,” katanya.

Dedikasi seorang pendidik menjadi pertaruhan dari sekolah ini sehingga bagaimana pun status SMSR berubah menjadi SMKN, mereka setia mengawal seni rupa sebagai bagian dari sejarah sekolah.

Imbalan gaji sebagai guru, kata Farid, sesungguhnya tidak berimbang jika dipertautkan dengan dedikasi serta tanggung jawab moral dan sosial yang melekat dalam diri seorang pendidik. Gaji guru berstatus pegawai negeri sipil golongan IV A misalnya, kurang lebih Rp 1,7 juta per bulan.

“Banyak guru seni rupa yang merangkap menjadi pengajar seni rupa di TK dan SD. Saya sendiri mencari tambahan mengajar seni rupa di SMA Kawung III Surabaya,” katanya.

Program keahlian seni rupa tidak mencetak seniman ataupun perupa, melainkan memberikan bekal pengetahuan dan keahlian seni rupa, baik patung, lukisan, ilustrasi ataupun grafis. Menjadi seniman ataupun pelukis adalah sebuah pilihan.

“Dari 23 lulusan seangkatan saya, hanya empat orang yang total menggeluti seni rupa, termasuk saya. Sebagian yang lain ada yang bekerja di percetakan dan periklanan,” kata Novita Sechan, alumni SMSR tahun 1997/1998.

Meski statusnya berubah menjadi SMKN, sekolah ini tetap membawa identitas SMSR sebagai cikal bakalnya. “Karakteristik sekolah seni rupa harus tetap dipertahankan,” kata Kepala SMKN Surabaya Noor Shodiq. Adapun soal loyalitas gurunya, tetap perpegang pada prinsip, kepuasan mengabdi adalah segalanya. (*)

(Abdul Lathief. Kompas, 3 Mei 2006)

4 Comments

  1. May 18, 2008 at 1:11 am

    Biarpun sudah sepuh, yang penting semangat berkaryanya masih mak nyussssss!!!!

  2. chai said,

    May 12, 2009 at 2:47 pm

    semangat……..

  3. Subiyono said,

    December 28, 2009 at 1:50 am

    ada tiga perkara yang sebenarnya harus dimiliki seseorang
    1. Agama – hidup menjadi terarah
    2. Ilmu – Hidup menjadi mudah
    3. Seni – hidup menjadi indah
    pokoknya semangat terus

  4. Ali said,

    June 16, 2010 at 2:15 pm

    Pak Thalib….Saya kenal sekitar thn 1992,Saya dulu pernah bicara sama Pak Thalib,Saya salut…sampai sekarang masih semangat. Dulu Phak Thalib di Balai Pemuda Jl.Pemuda Sby. Kalo tidak salah pd wkt itu ada “Sanggar Minggu”. Selamat berjuang….!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: