Pameran Usia Berlian

Tepat pada hari ulangtahunnya yang ke-75, Thalib menggelar pameran tunggal. Pameran itu merupakan pameran yang istimewa. Ibarat perkawinan, bukan lagi Kawin Perak atau Kawin Emas, tapi tingkatnya sudah Kawin Berlian. Menurut Thalib, cara seniman untuk memperingati ulangtahunnya sendiri ya dengan menggelar pameran. Dalam pelaksanaannya, pameran itu dengan sengaja dia persiapkan sebagai kerja yang mandiri, dibiayai sendiri, tanpa sponsor sama sekali, meski peluang untuk itu sebetulnya terbuka. Ketika ada yang hendak membantu dana, Thalib hanya menjawab, “beli saja karya saya.” Kalau toh disebut bantuan, justru datang dari keempat anaknya untuk kebutuhan acara pembukaan. Itupun bukan berupa uang tunai, melainkan konsumsi. Maka jadilah pameran tunggal yang juga menampilkan 75 karya bagaikan itu sebuah reuni keluarga besar Thalib dan anak-anak serta cucunya. Dan yang menarik, pembukaan pameran tersebut diresmikan oleh para cucu dan seorang anak angkatnya yang masih usia Taman Kanak Kanak.

Ini betul-betul sebuah hajatan yang penuh nuansa kekerabatan. Tidak ada pejabat yang hadir, meski mereka mendapatkan undangan. Namun ratusan pengunjung meluber hingga keluar tenda yang digelar di depan Gedung Krishna Mustajab, di Jalan Dukuh Kupang XXVII Surabaya itu. Banyak yang langsung hadir meski tak mendapat undangan. Padahal, lokasi Sanggar Aksera itu relatif jauh dari pusat kota. Thalib mengaku bangga bisa melaksanakan pameran ini, setidaknya sebagai bukti bahwa Penghargaan Gubernur Jatim yang diterimanya setahun sebelumnya itu memang tak salah. “Kalau saya yang usianya sudah 75 tahun masih bisa pameran, kenapa yang muda tidak bisa,” katanya.

Dalam pameran ini agaknya Thalib ingin membuktikan, bahwa kreativitasnya memang tanpa batas. Dia melukis dengan media apa saja, mulai dari tinta cina, ballpoint, pinsil, akrilik dan cat minyak. Patungnya pun dibuat dari perunggu, tembaga, semen, fiberglass, batu padas, kayu, kertas koran, lilin dan juga ubi kayu. Dia juga ingin membuka mata para guru seni rupa, bahwa kreativitas itu tidak terhalang oleh keterbatasan media ekspresi. Selama ini, katanya, banyak guru yang menganjurkan siswa membuat karya seni patung selalu menggunakan media sabun atau lilin. Mengapa? Ternyata bisanya memang hanya itu. Ada lagi yang mengaku jenuh karena tidak mendapatkan bahan yang tepat untuk membuat karya seni. Padahal, kalau mau kreatif bahan apapun bisa menjadi media karya seni.

Tak puas dengan media yang sudah ada, Thalib mengkombinasikan beberapa karyanya dari media berbeda menjadi satu karya instalasi. Di sebuah petak lahan yang sempit, dijajar batu-batuan kali sedemikian rupa sehingga membentuk semacam pulau-pulau. Di beberapa posisi ditempatkan patung-patung batu, patung kayu, kemudian juga wayang-wayang suketnya diberdirikan seperti menjaga pulau-pulau itu. “Ini wawasan kepulauan,” katanya. Bahwa bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan maritim sangat melimpah, dikaruniai dengan puluhan ribu pulau, sudah seharusnya dijaga dan dikelola dengan baik. Kesadaran sebagai negara kepulauan itulah yang menurut Thalib masih memprihatinkan.

Yunani Prawiranegara, budayawan yang juga wartawan Surabaya Post itu, menuliskan kesaksiannya, bahwa pameran tunggal kelima Thalib Prasaja ini lebih menorehkan kesan mistis kontemplatif ketimbang gebyar artistiknya. Hampir semua karyanya dari berbagai media itu dinafasi budaya Jawa yang kaya muatan filosofis. Melalui proses pencarian kebenaran sejati (ultimate truth), orang seusia dia memang wajar menemukan jatidirinya. Dan itu hanya bisa dicapai dengan menggunakan rasa sejati (ultimate feeling) melalui perenungan dan pengendapan alias mistik. Dengan upaya kontemplatif itu, manusia akan mampu melihat dirinya, melihat asal mula kehidupannya, yang dalam falsafah wayang dirangkum dalam ajaran sangkan paraning dumadi.

Dalam falsafah keris yang banyak dijadikan obyek lukisan, orang semacam Ki Ageng Thalib ini sudah sampai pada tataran warangka manjing curiga. Eyang Thalib cukup cermat menuangkan aspek perkerisan (luk, pamor, warangka, pendhok) pada karya-karyanya sehingga muncul nuansa magis yang mistis. Selain esoteris keris, mitologi wayang yang sudah menyatu dalam kosmologi Jawa juga menjadi dasar karyanya. Bagi dia, wayang merupakan sistem filsafat kejawen yang mengajarkan tentang asal mula dan akhir kehidupan yang didasarkan pada lima prinsip, yaitu: Rasa sejati, kenyataan sejati, pengetahuan sejati, kesadaran sejati dan kebenaran sejati. Gejala yang menampak pada dunia filsafat bermunculan dalam bentuknya yang serba lambang, serba simbolik, yang dalam istilah Jawa disebut pasemon. Sementara wayang adalah suatu pasemon, suatu simbol atau lambang tentang kehidupan manusia semesta (wewayanganing ngaurip). Bahkan, boleh dikatakan, seluruh eksistensi wayang itu sendiri adalah pasemon. Nah, Eyang Thalib cukup intens mentransformasikan simbol-simbol pada wayang budaya Jawa itu ke dalam karya-karyanya.

Perlu diakui, bahwa pameran ini membuktikan kematangan Thalib Prasojo sebagai seniman yang konsisten dengan dunianya. Atau, mengutip Yunani, seperti minuman kopi, perjalanan hidup Thalib dalam berseni rupa sudah begitu meneb. Sebuah pengendapan batin yang tertuang dalam pamerannya kali ini. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: