Patung Kayu Kaligrafi Jawa

pahat-ok.jpg
Soal patung kayunya itu memang unik. Bahannya didapat dari bekas pangkal pohon, bekas bantalan rel kereta api, dan juga potongan sisa gelondongan kayu jati. Dengan bahan yang disebut terakhir itulah lantas diukir dengan huruf-huruf Jawa seperti kaligrafi. Isi kalimat-kalimat berhuruf Jawa inilah yang sarat dengan muatan ajaran hidup. Ada yang berupa kalimat singkat dan ringkas, namun ada yang berpanjang-panjang, misalnya: Kidung Sunan Kalijaga. Kalau pelukis M. Roeslan dikenal piawai mengungkap falsafah Jawa dalam lukisan kaligrafinya, maka seorang Thalib Prasojo membuat kaligrafi Jawa dalam bentuk ukiran di atas kayu. Terobosan seperti inilah yang langka.

Salah satu karyanya berupa relief kayu dua burung merak diberi judul “Wanita Ideal”. Ternyata bacaan aksara Jawa dalam ukiran itu berbunyi: Gandhes luwes merak ati. Cerdas, luwes, lembut hatinya. Ini memang gambaran ideal sosok wanita yang seharusnya dihadirkan. Wanita secantik apapun percuma saja kalau kepalanya kosong. Wanita seharusnya memiliki kepandaian, namun tetap luwes dan lebut hatinya sebagaimana kodratnya sebagai wanita. Bukan lantas mentang-mentang mengandalkan kepinterannya.

Ada lagi ukiran kayu yang dibingkai layaknya lukisan, berisi Kidung Sunan Kalijaga: Ana kidung rumekso ing wengi. Teguh ayu luputo ing lara. Luputo bilahi kabeh. Jin setan, datan purun, paneluhan, tan ana wani. Miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni temahan tirta, maling ngadoh. Tan purun mring mami tuju duduk pan sirna.

Terjemahan bebasnya: Ada kidung di malam hari, terhindar dari penyakit, terhindar pula dari musibah, jin dan setan tidak berani mengganggu. Tenung tidak ada yang mempan. Dan semua nafsu jahat, guna-guna meleset, api pun menjadi air, maling menjauh. Tidak berani ke sini. Semua niat jahat kembali musnah.

Sebuah ukiran lagi berjudul: Sabdo Pandito Ratu. Maksudnya, Sekali jadi. Orang yang punya posisi, jangan mencla-mencle kalau bicara. Ada yang berbunyi: Gusti Maha Suci (Subhanallah). Ada pula menghadirkan sosok Semar: Eling lan waspada. Tulisan di situ berbunyi:

Kun fayakun. Dadio sak ciptaningsun, kabul panuwun ingsun, kebak luber, lokak dijoki saking Allah.

Artinya: Jadilah, apa yang seharusnya terjadi. Yang saya cipta terjadilah, yang saya mohon terkabul, penuh, kurang sedikit digantikan dari Allah.

Ternyata, ini adalah sebuah doa gaib yang didapat Thalib dari laku, puasa, prihatin, ketika berada dalam perjalanan, malam-malam, kemudian terdengar bisikan tersebut. Doa gaib ini harus dibaca pada malam hari diluar rumah.

Memang tidak semuanya serba filosofis, ada karya ukiran yang berisi tulisan Jawa berbunyi: Kaya banyu karo iwak. Maksudnya, menggambarkan posisi antara majikan dan pembantu. Perbedaan diantara keduanya berada dalam posisi saling membutuhkan, saling melengkapi.

Karya ukiran lain berjudul Kalpataru, melukiskan gunungan. Maksudnya, gunungan itu ya Kalpataru, artinya pohon hayat. Nenek moyang sudah menasehati agar mencintai lingkungan hidup dan sesama makhluk. Filosofi gunung, maknanya digugu yen wis dunung (dituruti ucapannya sudah paham betul, memang pakar). Dalam gunungan wayang, ada rumah dekat dengan pohon, banteng, macan, dijaga dua raksana mahluk halus yang tidak boleh dihina. Semuanya itu bukan buatan pabrik, yang menciptakan sama dengan yang menciptakan manusia. Cuma kita yang suka menyelepekan, padahal semuanya, tanah, aingin, air, kayu berseru pada Alllah. Seru sekalian alam. Kita bisa berdoa atau mengaji tetapi tidak memahaminya dengan baik, malah bersikap menganiaya alam. Contohnya lumpur Lapindo karena manusia bersikap sewenang-wenang, tidak mencintai bumi, rakyat, tidak berpikir bgaimana dampaknya melakukan eksplorasi bumi. Yang dipikir hanya untungnya saja. Menyepelekan orang-orang Siring, Porong, yang berpikir mereka nantinya semua bisa dibeli. Akhirnya yang didapat bukan untung malah buntung.

Sebagai karya ukiran, memang akhirnya karya-karya ukiran kayu ini sulit dianggap sebagai patung. Karena kadang tampil sebagai karya dua dimensi. Apalagi ketika kemudian ukiran di atas belahan kayu itu dipajang dengan pigura, dan dicantelkan di dinding. Namun banyak karya ukiran lain yang cara penempatannya menjadi bermakna justru ketika diperlakukan seperti patung. Misalnya saja, lembaran kayu-kayu ukiran itu diposisikan berdiri sebagaimana patung pada umumnya. (*)

7 Comments

  1. ghan said,

    February 23, 2008 at 3:32 pm

    bagus bgt

  2. Yuli "Kebo Kicak" Purwanto said,

    March 6, 2008 at 5:34 am

    mbah, tolong dikirimi mp3 kidung rumekso ing wengi ya …!

  3. bahrull said,

    May 15, 2008 at 3:58 pm

    NICEE !!

  4. rohjiwatubuhmanusia said,

    May 27, 2008 at 3:22 am

    luar biasa

  5. agus irawan said,

    September 1, 2008 at 6:45 am

    banyak orang punya karya, hanya sedikit yang punya makna..
    Gusti moho welas, moho asih….

  6. cempluk said,

    February 6, 2009 at 12:58 pm

    kereeeennnn….
    bisa download karya ki nartosabdo ga…???

  7. bocah wingi sore said,

    November 6, 2009 at 9:14 am

    becik sanget….
    olo yo rupoku,,,, hehehe…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: