Sketsa, Sederhana

Di kalangan seniman, Thalib memang dikenal sebagai pelukis sketsa alias sketser. Ini karena dia memang kemana-mana membawa kertas dan pena, kemudian melukis di banyak kesempatan. Mulai dari nonton wayang, ludruk, pemungutan suara (Pemilu), saat menjadi peserta (dan bahkan pembicara) diskusi, atau ketika hadir dalam pembukaan pameran lukisan atau acara pergelaran kesenian tradisi. Tidak lupa pula, ia dokumentasikan dengan sketsanya gedung-gedung tua dan bersejarah yang bertebaran di berbagai penjuru kota. Bahkan, ketika sedang berlangsung unjuk rasa (demo) di jalanan, Thalib juga ikut “demo” melukis sketsa situasi demo yang menarik perhatiannya. Kadang-kadang, kebiasaannya ini menimbulkan salah paham dengan pelukis lain yang pada saat itu menggelar pameran.

Di negeri ini, pelukis yang mau menekuni sketsa boleh dibilang amat langka. Memang banyak pelukis yang mengklaim mampu melukis sketsa, namun dengan sengaja serius berada pada lajur sketsa, merupakan keberanian yang luar biasa. Di Surabaya, sekarang ini hanya ada Lim Keng, itu setelah M. Thalib pindah menjadi penduduk Sidoarjo. Kemudian muncul Hardono, yang terjun serius menjadi sketser setelah memasuki masa pensiun kerja dinasnya. Sketse handal lainnya adalah Tedja Suminar, ayah pelukis Natalini, yang hijrah dari Surabaya ke Bali. Sedangkan raksasa sketser Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang adalah Ipe Maaruf, yang tinggal di Jakarta. Diluar nama-nama tersebut, rasanya belum ada pelukis sketsa yang mampu bertahan lama dan eksis sebagai sketser.

Lantaran kemana-mana Thalib menggunakan angkutan umum, tentu banyak pengalaman yang didapatkannya sebagai bahan membuat sketsa. Ada perempuan cantik dengan dandanan minim berangkat ke kantor, para pedagang pergi ke pasar lengkap dengan barang-barangnya. Pelajar dan mahasiswa yang berangkat menuntut ilmu. Atau, orang-orang yang “bekerja” di angkutan umum, mulai dari kernet sampai pencopet. Dan ternyata, “modal” yang dia dapat dari angkutan umum itu harus “dibayar” dengan cara yang menjengkelkan. Ceritanya, saat berada di atas bus kota, saku celananya digerayangi orang. Thalib merasakan, namun tidak berani melawan. Dia biarkan saja sampai dompetnya melayang. Setelah itu, dia hanya memandangi saja wajah pencopet itu dengan cermat, kemudian setelah sampai di rumah dia melukis sketsa wajah pencopet tersebut. Peristiwa seperti ini bukan hanya sekali terjadi. Dan lagi-lagi Thalib membalasnya dengan cara melukis wajah pencopet itu. Sebagaimana diceritakan ada Surabaya Post, para pencopet itu juga ada yang berwajah ganteng dan gagah. Mirip sekali dengan produser film dan pencipta lagu terkenal (namanya tak mau disebutkan). Toh, sketsa yang merekam wajah-wajah pencopet itu tidak berani dihadirkan dalam pamerannya. Tidak kurang dari 12 pencopet berbagai usia yang masih “ditahan” oleh Thalib dalam karya sketsanya.

Kadang-kadang ketika sponanitasnya muncul, Thalib langsung melukis sketsa di atas angkutan umum. “Teruskan saja Pak, ndak usah mbayar,” ujar Thalib menirukan kondektur.

Pengalaman yang tak kalah mengesankan juga dia dapat ketika melukis sebuah surau di pedesaan. Ketika dia membuat skets itu, seolah-olah ada bisikan di telinganya yang mengatakan, “seharusnya kamu sholat dulu, baru menggambar.” Maka begitu selesai melukis, Thalib langsung menunaikan sholat di surau itu. Tempat-tempat ibadah agama lain juga menarik hatinya diabadikan dalam sketsa, seperti candi Borobudur, Prambanan, Klenteng, Vihara, serta juga tempat-tempat keramat, termasuk makam Bung Karno.

Pilihannya pada sketsa sebetulnya berdasarkan alasan yang praktis dan sederhana. Dia merasa punya rumah yang kecil. Sketsa gampang disimpan. Nanti kalau waktu hendak pameran baru dipigura. Beda dengan lukisan yang besar, harus dipigura dan sulit merawatnya serta membutuhkan ruang yang luas. Dia ingin mematahkan anggapan hedonis, bahwa sketsa tak bisa laku mahal, jangan berharap menjadi kaya dengan sketsa. Tapi Thalib terus menggambar sketsa, ibarat mengumpulkan ikan teri, kalau jumlahnya satu kapal, harganya malah melebihi ikan besar. Dengan membuat sketsa, berarti harus bertemu orang lain, berarti menjalin persaudaraan, silaturrahim. Pengalaman sosial inilah yang mahal. Sampai-sampai pernah diusir-usir ketika melukis, sehingga terpaksa harus meminta surat keterangan sebagai pelukis dari Dewan Kesenian, untuk bekal kalau menghadapi soal yang sama. Prinsipnya, semakin banyak dan jauh berjalan, semakin banyak pula yang ditemui. Thalib mengaku tidak bisa melukis skets di studio, tetapi harus berhadapan dengan obyek.

Alasan lainnya, semakin bertambah usia dan kondisi kesehatannya, sebetulnya dia menjadi terganggu dengan aroma cat minyak yang menyengat. Sketsa dapat menjadi penampung kegelisahan kreatifnya. Dengan sketsa ia dapat menuangkan segala uneg-unegnya. Bahkan dengan sketsa, ia malah merasa dapat hidup sehat. Sketsa, harus dibuat dengan berjalan ke tempat lain, ini berarti olahraga. Jika orang lain suka lari atau jalan kaki pagi hari, maka Thalib suka jalan kaki dari rumahnya menuju tempat-tempat yang merangsangnya untuk dilukis di atas kertas gambarnya.

Ketekunan dan kesetiaannya pada sketsa inilah yang menjadikan Thalib menjadi sosok pelukis sketsa yang masih bertahan. Di Surabaya, hanya ada Lim Keng yang setia dengan sketsa, setelah Tedja Suminar hijrah ke Bali. Dan ketika Thalib menjadi penduduk Sidoarjo, pelukis lain di Sidoarjo yang juga dikenal sebagai sketser adalah Hardono, yang lama tidur panjang dan aktif kembali ketika memasuki masa pensiun dari pekerjaan formalnya. Memang banyak pelukis yang membuat sketsa, terutama kalangan mahasiswa. Persoalannya adalah, sampai kapan mereka bertahan dengan sketsa? Alasannya klasik, karena sketsa tak bisa diandalkan untuk laku mahal. Padahal, berkat ketekunannya, Thalib mampu membuktikan bahwa meskipun dengan sketsa dia pernah mendapatkan rejeki hingga puluhan juta rupiah ketika ada yang memborong karya sketsanya untuk interior sebuah hotel di Bali.

Dalam banyak sketsanya, memang memunculkan suasana keseharian, tentang rakyat kebanyakan, namun ada pula sketsanya yang memiliki muatan filosofis. Salah satunya, ada sketsa yang melukiskan dua punakawan dalam wayang gaya Jawa Timuran yaitu Semar dan Bagong, mengapit gunungan. Dalam filosofi wayang, gunungan itu bermakna sebagai pembuka dan penutup. Maknanya, untuk mengingatkan pada kita bahwa ada permulaan dan ada akhir. Itu sama dengan keyakinan ketauhidan terhadap Allah. Jangan hanya mencari dunia, tapi juga akhirat. Dalam pewayangan Jawa Timuran memang hanya ada Semar dan Bagong, tidak seperti di Jateng jumlah punakawan ada empat (ditambah gareng dan Petruk). Hal ini senada dengan filosofi manusia di Jatim yang menyebut Kakang kawah adi ari-ari, sementara di Jateng disebut dengan sedulur papat lima pancer. Bedanya lagi, di Jatim, sabdo palon (dan) noyo genggong. Demikian pula pada jaman Kediri (hanya ada dua tokoh): Bancak dan Doyok. Lukisan sketsa tersebut dibuat di Mojosari sewaktu acara ulang tahun Pepadi Jatim.

Kekuatan sketsa memang pada kesederhanaannya, katanya. Tetapi justru karena sederhana itulah banyak orang yang tidak mampu lagi mengerjakannya. Sebab, dibalik garis-garis yang nampak sederhana, di situ ada spontanitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi dari seorang sketser. Nah, di situlah letak kesulitannya, sehingga tidak banyak orang (pelukis) yang meminati. (*)

5 Comments

  1. lani said,

    March 13, 2008 at 2:16 pm

    Pak, saya senang sekali dengan sketsa, terus mencoba tapi ga pernah bagus, dan kurang proporsional, kalau boleh tahu apa sih langkah pertama biar kita bisa menjadi sketser yang baik?

  2. sinyo said,

    July 23, 2008 at 1:11 pm

    Mbah aku melu dadi sketser.^^

  3. syafwan said,

    November 2, 2008 at 12:22 pm

    Permisi pak, blognya saya link. salam kenal

  4. alan said,

    January 22, 2009 at 3:23 am

    saya suka mmbuat sketsa, tapi pengen belajar seperti Ipe ma,aruf bagaimana ya caranya

  5. ester luluk said,

    July 6, 2010 at 3:20 pm

    cemet..bagus bangeeeeet!!!!!!!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: