Thalib Prasojo, Pematung Monumental

PATUNG perunggu Wage Rudolf Soepratman kini berdiri kokoh di areal makam pencipta lagu Indonesia Raya itu. Kehadiran patung di makam yang terletak di Jalan Raya Kenjeran, Surabaya, itu tak sekadar mempercantik, tapi jauh memiliki ruh yang seolah menyatu dengan kehebatan sang komponis.

Kehadiran patung seberat tujuh kuintal itu senantiasa menyapa siapa pun yang melintasi makam sang komponis. Dengan biola yang bertengger di atas pundaknya, seolah ia selalu berusaha melantunkan lagu kebanggaan negara ini.

“Sebenarnya pemugaran makam WR Soepratman itu sudah dimulai tahun 1953, tapi baru rampung setelah lima puluh tahun,” kata Thalib Prosojo, salah seorang pembuat patung WR Soepratman kepada Kompas di Surabaya.

Pak Thalib, demikian sang perupa pematung kelahiran Bojonegoro, 17 Juni 1934 itu disapa, mengaku, pembuatan patung pencipta lagu Indonesia Raya itu dikerjakan bersama Surahman. Nama lengkap mitranya itu Surahman Kasan Suwari, pelukis yang juga pewaris dari keluarga almarhum komponis besar itu.

Untuk membuat patung perunggu tersebut, Thalib mengaku, memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan. Sebelum patung perunggu WR Soepratman yang sekarang ini bertengger di areal makam komponis tersebut, Thalib bersama Surahman pun mempersiapkan pelbagai keperluan untuk proses pembuatan, antara lain, cetakan dari bahan semen.

“Ancang-ancangnya bulan Maret 2002, tapi pelaksanaannya baru bulan Oktober,” katanya. Walaupun patung perunggu komponis besar negeri ini sudah berdiri kokoh dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, sang pematungnya sendiri mengaku belum terlampau puas.

Andaikan saja waktunya lebih lama lagi, hasil akhirnya pun jauh lebih baik lagi. “Kalau saja waktunya diperlama hingga enam bulan, tentunya hasilnya jauh akan lebih baik, tapi bukan berarti patung perunggu WR Soepratman itu tidak berkualitas,” katanya.

Patung WR Soepratman setinggi 2,5 meter ini rencana awalnya hanya sepotong tubuh dari kepala hingga batas dada. Namun, karena tidak memadai, lalu disepakati untuk membuat patung WR Soepratman secara utuh.

THALIB, yang sudah memiliki empat anak dan tujuh cucu, sekarang ini bermukim di Kompleks Perumahan Taman Airlangga, Sidoarjo. Sebelum membuat patung perunggu WR Soepratman, pernah pula membuat patung Komodor Yos Sudarso, Komodor Mulyadi, patung Taruna Akabri Laut, dan patung Duarapala.

“Patung perunggu WR Soepratman ini, karya kelima saya sebagai pematung,” katanya.

Selain itu, Thalib Prasojo yang juga dikenal sebagai perupa sketsa yang suka berburu obyek (peristiwa-peristiwa-Red), antara lain, tatkala ada pergelaran kesenian tradisi jaranan kepang, misalnya, di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), ia pun tampak serius memindahkan obyek di atas kertas dengan tinta.

“Tahun 1970, saya pernah membuat patung semen pahlawan arek Suroboyo membawa keris di pertigaan Jalan Basuki Rachmat dan Jalan Kombes Pol Duriyat,” katanya. Patung Gubernur Suryo di depan Gedung Negara Grahadi pun bagian dari karya Thalib Prasojo.

“Sekitar tahun 1975, patung Gubernur Suryo itu saya buat pada era kepemimpinan Wali Kota Muhadji Wijaya,” tuturnya.

Sebagai perupa alumnus Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) angkatan pertama, tahun 1967, Thalib Prasojo menandaskan, seorang perupa jika ingin eksis, mau tidak mau harus memiliki kemampuan plus. Artinya, sebagai pelukis ia pun harus mempunyai pengetahuan lain pada bidang seni rupa lain, seperti patung, misalnya.

“Butuh satu dekade untuk seorang perupa, apakah selama kurun waktu itu karya-karyanya berkualitas, atau sebaliknya. Kalau, ndak mampu melahirkan karya-karya monumental, ya, habis sudah,” katanya.

Menyoal eksistensi perupa muda di Surabaya, Thalib Prasojo mengungkapkan, secara kuantitas cukup bagus, tetapi secara kualitas belum mampu mewakili zamannya. “Secara kuantitas, oke. Secara kualitas memang ada yang menonjol, tapi belum bisa mewakili zamannya,” ujarnya.

Berbeda dengan Aksera, perupanya pun lahir dengan kekuatan sendiri dan mampu mewakili zamannya, antaranya, Makhfoed, Dwijo Sukamto, Nuzurlis Koto, Thalib Prasojo, Nunung WS, yang sekarang ini bermukim di Jakarta, almarhum Utut Hartono.

“Untuk keramik, Nuzurlis Koto, Sketsa, ya, saya sendiri, drawing Su’ud dan Subono Sambowo,” ujarnya. Hedonisme itulah yang mempengaruhi perupa muda era sekarang ini, sehingga mereka pun lebih mementingkan kenikmatan. “Hedonisme mendahului penciptaan, sehingga karya mereka pun tidak berbobot,” tuturnya.

Sebagai sosok perupa generasi Aksera, Thalib tak pernah berhenti berproses dan bergulat untuk mempertahankan eksistensinya, termasuk merekam peristiwa-peristiwa aksi unjuk rasa dengan kekuatan sketsanya, terakhir memindahkan obyek aksi unjuk rasa reformasi di depan Gedung Grahadi.

“Jelas ada kebanggaan tersendiri bisa melibatkan diri membuat patung WR Soepratman yang milik nasional, dan paling tidak ikut nguruni monumen yang sifatnya nasional,” kata Thalib Prasojo. (TIF)

Kompas, Senin, 16 Juni 2003

1 Comment

  1. asman said,

    July 15, 2009 at 2:57 pm

    Wah seneng mas bisa kenalan sama pematung hebat yang memiliki produktifitas tinggi, maaf saya asman pengen nanya tentang patung perunggu, gimana menghitung kalkulasi biayanya jika patung tersebut orang dewasa berdiri setinggi 20 meter berbahan perunggu dan beratnya kira2 13 ton


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: