Bedol Karya Padepokan Akar Rumput

Gunakan Daun Siwalan untuk Wayang Lontar

Daun lontar merupakan daun paling “terhormat” di Indonesia. Sebab, daun itu dipilih sebagai tempat menyimpan ilmu pengetahuan. Hal tersebut ternyata menginspirasi Thalib Prasodjo untuk memanfaatkan tanaman siwalan itu sebagai bahan pembuatan wayang. Dia menyebutnya dengan wayang lontar.

NUNGKI KARTIKASARI, Sidoarjo

LEBIH dari 50 koleksi wayang lontar dipajang di atas lesung. Bentuknya bermacam-macam, sesuai dengan karakter. Ada Arjuna, Bima, Krisna, dan juga Semar. Semua karya itu bisa dinikmati umum di Pendapa Krida selama Bedol Karya Padepokan Akar Rumput yang berlangsung mulai kemarin (1/2) hingga Sabtu (6/2).

Seniman wayang suket itu tak pernah berhenti berkarya. Pada usianya yang ke-78, Thalib mencoba membuat wayang dari daun siwalan atau biasa dikenal dengan daun lontar. Sebulan sebelum pameran, pria yang akrab disapa Eyang Thalib itu mendapat inovasi baru tersebut.

Awalnya, dia memesan beberapa lembar daun lontar dari seorang kawannya di Gresik. Saat pesanan itu datang, Thalib membolak-balik daun tersebut. Menurut dia, tidak sulit untuk menjadikan sehelai daun itu menjadi wayang. “Prinsipnya kan tidak jauh dengan cara membuat wayang suket,” terangnya.

Namun, Thalib tak mau membuatnya sama dengan wayang suket atau wayang (dari) rumput. Bentuk wayang suket tipis, dengan tinggi sekitar 60 sentimeter. Pengasuh Padepokan Akar Rumput itu menjelaskan, wayang lontar lebih berisi. Tidak tipis atau gepeng seperti wayang suket.

Thalib mengungkapkan, pembuatan wayang lontar setingkat lebih sulit daripada pembuatan wayang suket. “Sebab, saya buat tiga dimensi,” ujarnya.

Bentuk kepala wayang dibuat lebih padat. Begitu juga bagian badan dan dua tangannya. Tingginya tidak berbeda dari wayang suket. Yakni, sekitar 60 sentimeter.

Untuk membuat satu wayang, dia hanya membutuhkan waktu sekitar sejam dan menghabiskan sedikitnya dua helai daun lontar. “Bergantung karakternya,” tambah Thalib.

Dengan dua tangannya, Thalib membolak-balik bagian daun sambil berimajinasi tentang sosok yang ingin dibuatnya. “Pembuat harus mengenal betul karakter wayang yang ingin dibuatnya. Apakah dia sosok bijaksana atau sosok antagonis,” terangnya.

Karakter tersebut menjadi bagian dari pembuatan wayang lontar. Sebab, setiap lekuk wayang menjadi simbol masing-masing karakter. “Tiap karakter juga harus memiliki ciri khas yang kental,” ucapnya.

Menurut Thalib, daun lontar lebih awet jika dimanfaatkan untuk wayang. Perawatannya pun tidak sulit. “Asal, jangan kena air, debu, dan rayap,” tegasnya.

Filosofi daun lontar itu dia dapatkan dari kitab kuno. Eyang Thalib percaya, peninggalan sejarah yang ditulis di atas daun lontar sangat awet. Bahan itu dianggapnya mampu mewakili karakter wayang yang melegenda. (ib)

Jawa Pos,

[ Selasa, 02 Februari 2010 ]

1 Comment

  1. celia said,

    February 15, 2010 at 7:15 am

    bagus bgt
    kmarin qw liat karyanya bagus2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: