Profil

Menjalani hidup dengan sederhana (prasaja), adalah prinsip yang dipegang teguh, sesuai dengan namanya, Thalib Prasojo. Seluruh karyanya, berangkat dengan semangat dan nuansa budaya Jawa. Karena itu, dalam melukis atau patung ukir misalnya, dia bukan sekadar menghadirkan obyek tertentu, melainkan ada muatan pesan filosofis di dalamnya. Namun dalam banyak karya lainnya, Thalib lebih suka menampilkan hal-hal yang biasa saja, mengenai dunia keseharian rakyat kecil, dan tentang hal-hal sederhana yang jarang diperhatikan orang lain. Hal ini banyak ditemui dalam karya-karya sketsanya.

Sejak kecil Thalib akrab dengan wayang. Selain suka menonton pertunjukannya, yang justru lebih membuatnya kagum adalah unsur seni rupanya. Wayang adalah juga karya seni rupa yang memiliki pesona tersendiri. Maka sejak masih remaja Thalib sudah melukis dan membuat wayang di atas karton dan menjualnya di warung-warung. Sosok dan filosofi wayang itu pula yang kemudian banyak dihadirkan dalam sketsa, lukisan, dan juga ukiran. Bahkan, belakangan dia juga membuat wayang dari bahan jerami dan rumput. Wayang jenis ini dulu dikenal sebagai mainan anak-anak di desa, namun sekarang sudah sulit ditemui lagi. Namun di tangan seniman sekelas Thalib, jadilah karya seni rupa yang mengagumkan. Dia pernah pamerkan pada beberapa kesempatan, banyak diminati kolektor, dan juga ditiru oleh pelukis lain dan disebarkan kemana-mana.

Lelaki yang dianggap sesepuh seniman Sidoarjo itu juga dikenal sebagai pelukis sketsa yang rajin. Kemana-mana dia selalu membawa kertas gambar, mengabadikan berbagai hal, termasuk pencopet di atas bus kota yang pernah menggondol dompetnya. Thalib memang bukan sekadar pelukis. Sebagai seniman rupa (perupa), dia tidak pernah terhambat oleh keterbatasan bahan dan sarana. Ia melukis dengan apa saja, mulai dari pinsil, pulpen, arang, pastel, dan krayon disamping ia menguasai akrilik serta juga cat air dan cat minyak. Dia juga membuat patung, bahkan kemahirannya mematung lebih dulu dikuasainya ketimbang melukis. Lagi-lagi, dunia kejawen yang mendarah daging dalam dirinya ikut mewarnai karya-karya ukirnya. Dia membuat patung kayu yang diukir sedemikian rupa dengan huruf-huruf Jawa (Hanacaraka), berisi kata-kata mutiara dalam budaya Jawa dan juga mantra-mantra. Karyanya yang satu ini tergolong unik, karena sebagai ukiran kaligrafi Jawa, justru diposisikan sebagai patung tiga dimensi yang tentunya tidak hanya dinikmati dari satu sudut pandang saja.

Jika bertemu dengan Eyang Thalib (begitu biasanya disapa), jangan kaget kalau diam-diam dia membuat sketsa terhadap orang di dekatnya dalam waktu yang singkat. Ketika menjadi salah satu pembicara dalam diskusi, sempat-sempatnya dia melukis deretan pembicara lain dan moderator yang duduk di sebelahnya. Wajah-wajah kota lama Surabaya, geliat kehidupan di desa, telah banyak yang direkamnya dalam sketsa, juga berbagai peristiwa budaya (pementasan, pergelaran wayang), kondisi lalu lintas di jalanan, termasuk juga suasana saat berlangsung Pemilihan Umum. Karena itulah maka sketser yang satu ini boleh dibilang sebagai dokumentator yang unik.

%d bloggers like this: