Serangan AS Harus Dicegah

BAGI seorang seniman generasi tua seperti Thalib Prasojo, perang selalu menyengsarakan umat manusia. Sebab itu, sedapat mungkin perang yang hendak dilancarkan oleh Amerika Serikat atas Irak dicegah. “Yang paling mendasar tuntutan manusia itu tentrem. Jadi, jangan lagi abad ini dijadikan abad kekerasan, tapi abad kedamaian,” katanya di sela-sela aksi demonstrasi Seniman Indonesia Anti Perang di depan Konjen AS di Surabaya. “Irak itu tanpa perang sudah menderita,” katanya. Jika perang meletus, ibaratnya timun musuh durian. “Ya, menang durian karena timun itu lunak. Sedangkan durian itu lancip-lancip,” tuturnya mempersonifikasikan Irak dengan buah mentimun, Amerika Serikat sebagai buah durian. (TIF)

Kompas, 19 Maret 2003

Diusir di Pabrik Kapur

Ketika sedang asyik melukis obyek pabrik kapur di suatu daerah, tahu-tahu seorang lelaki berbadan kekar mengendarai sepeda motor, berhenti persis di depannya.

”Sebentar, kamu tahu pabrik itu ada yang punya.”

”Ya tahu, wong langit saja juga ada yang punya kok.”

”Kamu tahu kalau menggambar itu ada ijinnya.”

”Ijin sama siapa?”

”Ya sama yang punya…”

Jengkel dengan gayanya yang mentang-mentang, Thalib langsung berdiri dan balik menggertak:

”Kamu tahu pangkatku?” Read the rest of this entry »

Menyentuh si Cantik

Bersama dengan teman-temannya, Thalib sedang berada dalam satu mobil yang hendak mengisi BBM di SPBU. Kebetulan, ada seorang wanita cantik, mengenakan rok agak pendek, memamerkan betisnya yang mulus. Dasar iseng, seorang temannya yang juga pelukis, bermaksud menggoda Thalib.

”Ayo Pak, kalau sampeyan berani menyentuh betis wanita itu saya beri uang.” Read the rest of this entry »

Anekdot: Iso-iso ae….

Bercerita tentang M. Thalib, tak bisa dilepaskan dari koleksi anekdotnya yang melimpah. Bukan hanya cerita-cerita lucu yang imajinatif, namun berupa pengalamannya sendiri ketika berinteraksi dengan kalangan seniman teman-temanya. Dalam pembicaraan santai, tak jarang Thalib lantas mengudar koleksi anekdotnya yang rasanya tak pernah kering itu. Diantara sekian banyak cerita lucunya itu, berikut ini adalah beberapa contoh anekdotnya. Read the rest of this entry »

Patung Kayu Kaligrafi Jawa

pahat-ok.jpg
Soal patung kayunya itu memang unik. Bahannya didapat dari bekas pangkal pohon, bekas bantalan rel kereta api, dan juga potongan sisa gelondongan kayu jati. Dengan bahan yang disebut terakhir itulah lantas diukir dengan huruf-huruf Jawa seperti kaligrafi. Isi kalimat-kalimat berhuruf Jawa inilah yang sarat dengan muatan ajaran hidup. Ada yang berupa kalimat singkat dan ringkas, namun ada yang berpanjang-panjang, misalnya: Kidung Sunan Kalijaga. Kalau pelukis M. Roeslan dikenal piawai mengungkap falsafah Jawa dalam lukisan kaligrafinya, maka seorang Thalib Prasojo membuat kaligrafi Jawa dalam bentuk ukiran di atas kayu. Terobosan seperti inilah yang langka. Read the rest of this entry »

Pada Mulanya adalah Patung

Selain melukis wayang, sebetulnya membuat patung merupakan kemahirannya yang kali pertama dikuasainya. Itu karena kebiasaan membuat relief dari semen, dan ikut kerja bersama seniman lain dalam proyek-proyek membuat monumen. Sejumlah pengalaman bekerja dalam tim membuat patung yang melibatkannya antara lain berupa Patung Pahlawan Memegang Keris yang ada di Jalan Basuki Rahmat, patung Gubernur Suryo di depan gedung negara Grahadi dan patung Pahlawan Tak Dikenal di kompleks Museum Tugu Pahlawan Surabaya. Read the rest of this entry »

Wayang Rumput

Kelekatannya dengan dunia wayang justru lebih pada sisi seni rupanya. Ketika bersekolah guru, Thalib remaja sudah punya pekerjaan sampingan yaitu menjual wayang kardus Punakawan. Dia gambar sendiri dengan menjiplak gambar wayang yang sudah ada, kemudian temannya yang menggunting. Kemudian diberi warna dengan sumba bercampur kanji, lantas dititipkan di warung-warung, seminggu kemudian didatangi lagi. Kalau ada yang berkurang, segera diganti dengan wayang yang baru. Read the rest of this entry »

Lukisan Kejawen

Karya-karyanya dua dimensi berupa lukisan, tetap saja menjadikan dunia wayang dan kejawen sebagai nafasnya. Penguasaannya terhadap wayang tidak perlu diragukan. Dan Tanpa harus menjadi dalang pergelaran wayang, Thalib dapat memainkan wayang-wayang yang dikehendakinya bagaikan sedang mendalang di atas kanvas. Tanpa harus merubah bentuknya seperti manusia, sosok-sosok wayang yang dilukis Thalib diberikan konteks baru dengan komposisi dengan elemen-elemen lainnya. Read the rest of this entry »

Dunia Organisasi

Sebetulnya tidak banyak yang diceritakan tentang keterkaitan Thalib dengan dunia organisasi. Sebab, meski temannya ada dimana-mana, dia kurang suka terikat dengan satu kelompok tertentu secara permanen sehingga mengganggu independensinya sebagai seniman. Yang jelas, ketika Thalib mulai masuk ke Surabaya, dunia politik negeri ini memang sedang panas. Terjadi percobaan kudeta di Jakarta. PKI melakukan pemberontakan, dilawan oleh tentara. Dan situasi perlawanan ini juga berimbas pada wilayah kesenian. Seniman Golongan Kiri dengan Lekranya, berhadapan dengan seniman yang berada dalam naungan kekuatan nasional dan agama. Read the rest of this entry »

Misteri Sebuah Arloji

Sebetulnya, masih banyak hal-hal misterius lainnya yang terjadi sepanjang hidupnya. Seperti yang diceritakan berikut ini:

Waktu itu saya sudah tinggal di rumah Sidoarjo. Saya pernah membeli sebuah jam tangan di trotoar Siola seharga Rp 20.000, dari harga yang ditawarkan Rp 25.000. Ketika malam tiba, saya tidur di kursi yang ada teras rumah. Tahu-tahu ada sosok orang tua, berpakaian putih-putih, bersih, gigi bagus, orangnya bersih, tahu-tahu duduk di bangku di depan, saya kaget. Read the rest of this entry »

« Older entries Newer entries »